Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Share

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:17 pm

Bab XXVI
Brahmana

(Brahmana Vagga)


Kisah Brahmana Yang Memiliki Keyakinan Kuat

DHAMMAPADA XXV, 383

Suatu ketika, di Savatthi, hidup seorang brahmana yang sangat setia kepada Sang Buddha dan ajaran-Nya. Setelah mendengar khotbah yang diberikan Sang Buddha, setiap hari, ia mengundang para bhikkhu datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan.

Ketika para bhikkhu telah sampai di rumahnya, ia memperlakukan mereka seperti arahat dan dengan hormat mempersilahkan mereka untuk memasuki rumahnya.

Mendapat perlakuan demikian, bhikkhu-bhikkhu yang masih belum mencapai tingkat kesucian (puthujjana) maupun bhikkhu-bhikkhu arahat merasa enggan hati dan memutuskan untuk tidak pergi ke rumah brahmana tersebut keesokan harinya.

Ketika brahmana tersebut mengetahui bahwa para bhikkhu tidak lagi datang ke rumahnya, ia merasa tidak bahagia. Ia pergi menemui Sang Buddha dan memberitahu Beliau tentang para bhikkhu yang tidak lagi datang ke rumahnya.

Sang Buddha memanggil para bhikkhu tersebut dan meminta penjelasan. Para bhikkhu mengatakan kepada Sang Buddha bahwa brahmana tersebut memperlakukan mereka semua seperti arahat.

Sang Buddha kemudian bertanya kepada mereka, apakah mereka merasa bangga dan senang ketika mereka diperlakukan seperti itu. Para bhikkhu menjawab tidak.

Kepada mereka Sang Buddha berkata, " O, para bhikkhu jika engkau tidak merasa bangga dan senang ketika diperlakukan seperti arahat, maka engkau tidak bersalah melanggar peraturan disiplin para bhikkhu yang manapun. Kenyataan brahmana tersebut memperlakukan demikian karena ia sangat setia pada para arahat. Jadi, murid-Ku, engkau harus berjuang keras mengurangi nafsu keinginan dan mencapai tingkat kesucian arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 383 berikut :

O, brahmana, berusalah dengan tekun memotong arus keinginan
dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria.
Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi,
O brahmana, engkau akan merealisasi nibbana, 'Yang Tidak Terciptakan'.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:25 pm

Kisah Tigapuluh Bhikkhu

DHAMMAPADA XXV, 384

Pada satu kesempatan, tiga puluh bhikkhu datang memberi penghormatan kepada Sang Buddha.

Y.A.Sariputta, yang mengetahui bahwa waktu itu adalah saat yang matang dan sesuai bagi para bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat, mendekati Sang Buddha dan bertanya, semata-mata hanya untuk kepentingan para bhikkhu tersebut.

Pertanyaannya berbunyi demikian : "Apakah yang dimaksud dengan dua Dhamma ?"

Terhadap pertanyaan demikian, Sang Buddha menjawab, "Sariputta! 'Meditasi Ketenangan dan Meditasi Pandangan Terang' adalah dua Dhamma tersebut."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 384 berikut :

Bila seorang brahmana telah mencapai akhir daripada dua jalan semadi
(pelaksanaan Meditasi Ketenangan dan Pandangan Terang),
Maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya.
Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.


Tiga puluh bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:27 pm

Kisah Mara

DHAMMAPADA XXV, 385

Pada satu kesempatan, Mara datang menemui Sang Buddha, menampakkan diri berujud manusia dan bertanya kepada Beliau, "Bhante! Anda sering mengucapkan kata 'param'. Apakah arti dari kata tersebut ?"

Sang Buddha yang mengetahui bahwa Mara-lah yang bertanya tersebut, lalu menegurnya, "O, Mara yang jahat! Kata 'param' dan 'aparam' tidak berarti apapun bagimu 'param' berarti 'pantai seberang' yang hanya dapat dicapai oleh para arahat yang telah terbebas dari kekotoran batin."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 385 berikut :

Seseorang yang tidak lagi memiliki
pantai sini (enam landasan indria dalam)
atau pantai sana (enam objek indria luar),
ataupun kedua-duanya (pantai sini dan pantai sana),
tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:31 pm

Kisah Mara

DHAMMAPADA XXV, 386

Suatu hari, seorang brahmana berpikir sendiri, "Buddha Gotama menyebut para pengikutnya dengan 'brahmana'. Saya adalah seorang brahmana jika dilihat dari kasta saya. Tidakkah saya juga disebut seorang brahmana ?" Setelah berpikir, ia pergi menemui Sang Buddha dan mengutarakan pendapat tersebut.

Kepadanya, Sang Buddha menjawab, "Aku tidak menyebut seseorang sebagai brahmana karena kastanya. Aku hanya menyebut seseorang sebagai brahmana jika ia telah mencapai tingkat kesucian arahat. "

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 386 berikut :

Seseorang yang tekun bersamadi, bebas dari noda, tenang,
telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan,
bebas dari kekotoran batin dan
telah mencapai tujuan akhir (nibbana),
maka ia Kusebut seorang brahmana.
Brahmana mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:42 pm

Kisah Ananda Thera

DHAMMAPADA XXV, 387

Saat itu adalah hari purnama sidhi di bulan ketujuh (Assayuja), ketika Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala datang menemui Sang Buddha. Raja tampak gemerlapan dengan tanda-tanda kebesarannya kerajaan yang megah.

Pada waktu itu Kaludayi Thera juga sedang barada pada ruangan yang sama dan duduk pada ujung kerumunan. Beliau sedang dalam keadaan pencerapan kesadaran yang dalam (jhana). Tubuhnya bersinar terang, dan berwarna keemasan.

Dari langit, Y.A. Ananda memperhatikan bahwa matahari sedang tenggelam dan bulan baru saja muncul, baik matahari maupun bulan memancarkan cahayanya.

Y.A. Ananda memandang gemerlapnya cahaya dari raja, sang thera, dan cahaya matahari dan bulan. Akhirnya, Y.A. Ananda melihat Sang Buddha, dan tiba-tiba merasa bahwa cahaya yang bersinar dari Sang Buddha jauh melampaui cahaya yang lainnya.

Karena melihat Sang Buddha bersinar dalam kedamaian dan kemegahan Beliau, Y.A.Ananda segera menghampiri Sang Buddha, dan menyambut dengan sorak sorai, " O, Bhante ! Cahaya dari tubuh-Mu yang mulia jauh melampaui cahaya dari raja, cahaya dari sang thera, cahaya dari matahari dan cahaya dari bulan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 387 berikut :

Matahari bersinar di waktu siang.
Bulan bercahaya di waktu malam.
Ksatria gemerlapan dengan seragam perangnya.
Brahmana bersinar terang dalam semadi.
Tetapi, Sang Buddha (ia yang telah mencapai Penerangan Sempurna)
bersinar dengan penuh kemulian sepanjang siang dan malam.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:46 pm

Kisah Seorang Pertapa Brahmana

DHAMMAPADA XXV, 388

Suatu ketika hiduplah seorang pertapa di Savatti. Suatu peristiwa berkesan pada dirinya, ketika Sang Buddha menggunakan istilah panggilan bagi semua bhikkhu pengikutNya yang meninggalkan keduniawian dengan kata : 'pabbajita'. Karena ia juga seorang pertapa, maka ia seharusnya disebut juga seorang pabbajita (yang meninggalkan keduniawian). Jadi ia pergi menemui Sang Buddha dan bertanya mengapa ia tidak disebut seorang pabbajita.

Jawaban Sang Buddha terhadap pertanyaannya adalah demikian : "Hanya karena seseorang adalah pertapa, seseorang tidak dapat begitu saja disebut seorang pabbajita; seorang pabbajita juga harus mempunyai persyaratan lain."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 388 berikut :

Karena telah membuang kejahatan,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana' ;
karena tingkah lakunya tenang,
maka ia Kusebut seorang 'pertapa'(samana);
dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin,
maka ia Kusebut seorang 'pabbajita'
(orang yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga).
Pertapa tadi mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:50 pm

Kisah Sariputta Thera

DHAMMAPADA XXV, 389-390

Y.A. Sariputta sering dipuji oleh banyak orang karena kesabaran dan pengendalian dirinya. Murid-muridnya biasa membicarakannya demikian: "Guru kita adalah orang yang memiliki kesabaran yang tinggi dan pengendalian diri yang luar biasa. Jika beliau diperlakukan kasar atau bahkan dipukul oleh orang lain, beliau tidak menjadi marah tetapi tetap tenang dan sabar."

Karena pembicaraan mengenai Y.A. Sariputta ini sering terjadi, seorang brahmana yang mempunyai padanganan salah mengumumkan kepada para pengagum Sariputta bahwa ia akan memancing kemarahan Y.A. Sariputta.

Pada saat Y.A. Sariputta sedang berpindapatta, muncullah brahmana tersebut menghampiri beliau dari belakang dan memukul punggung beliau dengan keras menggunakan tangan. Sang Thera tidak berbalik untuk melihat siapa yang telah menyerangnya, tetapi meneruskan perjalanannya seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi.

Melihat keluhuran dan ketabahan dari sang Thera yang mulia tersebut, brahmana itu menjadi sangat terkejut. Ia berlutut di kaki Y.A. Sariputta, mengakui bahwa ia telah bersalah memukul sang Thera, dan meminta maaf. Brahmana itu kemudian melanjutkan, "Yang Ariya, hendaknya engkau memaafkanku, dengan senang hati datanglah ke rumahku untuk menerima dana makanan."

Sore harinya para bhikkhu lain memberitahu Sang Buddha bahwa Y.A. Sariputta telah pergi untuk menerima dana makanan ke rumah seorang brahmana yang telah memukulnya. Lebih lanjut, mereka menduga bahwa brahmana tersebut makin berani dan akan melakukan hal yang sama terhadap para bhikkhu yang lain.

Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, seorang brahmana sejati tidak akan memukul brahmana sejati lainnya; hanya orang biasa maupun brahmana biasa yang akan memukul seorang arahat dengan kemarahan dan itikad jahat. Itikad jahat ini akan dilenyapkan oleh seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian anagami."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 389 dan 390 berikut :

Janganlah seseorang memukul brahmana,
juga janganlah brahmana yang dipukul itu menjadi marah kepadanya.
Sungguh memalukan perbuatan orang yang memukul brahmana,
tetapi lebih memalukan lagi adalah brahmana yang
menjadi marah kepada orang yang telah memukulnya.

Tak ada yang lebih baik bagi seorang 'brahmana'
selain menarik pikirannya dari hal-hal yang menyenangkan.
Lebih cepat ia dapat menyingkirkan itikad jahat,
maka lebih cepat pula penderitaannya akan berakhir.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 9:54 pm

Kisah Mahapajapati Gotami Theri

DHAMMAPADA XXV, 391

Mahapajapati Gotami adalah ibu tiri dari Buddha Gotama. Pada saat kematian Ratu Maya, tujuh hari setelah kelahiran Pangeran Siddhattha, Mahapajapati Gotami menjadi permaisuri dari raja Suddhodana. Pada waktu itu, putra kandungnya sendiri, Nanda, baru berusia lima hari. Ia rela anak kandungnya sendiri diberi makan oleh pembantu, dan dirinya sendiri memberi makan Pangeran Siddattha, calon Buddha. Maka, Mahapajapati Gotami telah melakukan pengorbanan besar bagi Pangeran Siddhattha.

Ketika Pangeran Siddhattha berkunjung ke Kapilavatthu setelah mencapai Ke-Buddha-an, Mahapajapati Gotami datang menemui Sang Buddha dan mohon agar kaum wanita juga diijinkan untuk memasuki pasamuan bhikkhuni. Tetapi Sang Buddha menolak memberi ijin. Kemudian, Raja Suddhodana meninggal dunia setelah mencapai tingkat kesucian arahat. Ketika Sang Buddha sedang berjalan di hutan Mahavana dekat Vesali, Mahapajapati, disertai oleh lima ratus wanita, berjalan dari Kapilavatthu menuju Vesali. Mereka telah mencukur rambut mereka dan telah menggunakan jubah yang sudah dicelup. Di sana, untuk kedua kalinya, Mahapajapati memohon kepada Sang Buddha untuk menerima kaum wanita ke dalam pasamuan bhikkhuni. Y.A. Ananda juga mendukung kehendak para wanita tersebut.

Akhirnya Sang Buddha memenuhi kehendak itu dengan syarat bahwa Mahapajapati hendaknya mematuhi delapan syarat khusus (garudhamma). Mahapajapati bersedia mematuhi garudhamma tersebut seperti yang diharapkan Sang Buddha. Kemudian beliau menerima kaum wanita ke dalam pasamuan bhikkhuni.

Mahapajapati adalah wanita yang pertama kali diterima dalam pasamuan bhikkhuni. Wanita yang lain diterima ke dalam pasamuan setelah Mahapajapati oleh para bhikkhu sesuai peraturan yang telah diajarkan Sang Buddha.

Setelah berlangsungnya waktu, terpikir oleh beberapa bhikkhuni bahwa Mahapajapati Gotami telah tidak sah diterima sebagai seorang bhikkhuni karena tidak mempunyai seorang pembimbing. Oleh karena itu Mahapajapati bukanlah seorang bhikkhuni yang sesungguhnya. Berdasarkan pemikiran yang demikian, mereka berhenti melakukan upacara uposatha dan upacara vassa (pavarana) bersama Mahapajapati Gotami.

Mereka pergi menemui Sang Buddha, dan mengajukan permasalahan bahwa Mahapajapati Gotami telah tidak dengan sah diterima dalam pasamuan bhikkhuni karena ia tidak mempunyai pembimbing.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Mengapa kalian berkata demikian? Saya sendiri memberikan delapan kewajiban khusus (garudhamma) kepada Mahapajapati, dan ia telah memahami serta melakukan garudhamma seperti yang Kuharapkan. Saya sendiri pembimbingnya dan adalah salah jika kalian mengatakan bahwa ia tidak mempunyai seorang pembimbing. Kalian hendaknya tidak meragukan apapun yang dilakukan oleh seorang arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 391 berikut :

Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat
melalui badan, ucapan, dan pikiran,
serta dapat mengendalikan diri dalam tiga saluran perbuatan ini,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 10:00 pm

Kisah Sariputta Thera

DHAMMAPADA XXV, 392

Yang Ariya Sariputta lahir dari orangtua brahmana dari desa Upatissa; sehingga ia diberi nama Upatissa. Ibunya bernama Sari. Teman dekatnya adalah Kolita, seorang brahmana muda, anak dari Moggali. Kedua anak muda ini sedang mencari ajaran yang benar, yang akan mengantar mereka menuju kebebasan dari lingkaran kelahiran kembali. Keduanya mempunyai keinginan yang kuat untuk memasuki kelompok religius.

Pertama-tama, mereka pergi kepada Sanjaya, tetapi mereka tidak puas dengan ajarannya. Kemudian mereka mengembara ke seluruh Jambudipa mencari seorang guru yang dapat menunjukkan mereka jalan menuju ke keadaan tanpa kematian. Tetapi pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Setelah beberapa waktu, mereka berpisah dengan kesepakatan bahwa siapa yang menemukan dhamma sejati terlebih dahulu akan memberitahu yang lain.

Pada suatu saat Sang Buddha tiba di Rajagaha, dengan rombonganpara bhikkhu, termasuk Assaji Thera, salah satu dari lima bhikkhu pertama (Pancavaggi). Ketika Assaji Thera sedang berjalan menerima dana makanan, Upatissa melihat sang thera, ia sangat terkesan dengan wajah dan penampilan thera yang mulia. Sehingga Upatissa dengan penuh hormat mendekati sang thera dan bertanya siapakah gurunya, ajaran apakah yang diajarkannya, dan juga mohon secara singkat mengajarkan ajarannya kepada dirinya.

Assaji Thera menjawab Upatissa tentang kedatangan Sang Buddha dan perjalananNya di Vihara Veluvana dekat Rajagaha. Sang thera juga mengutip satu bait yang terdapat dalam 'Empat Kebenaran Mulia'.

Syair itu demikian :

Ye dhamma hetupppa bhava
tesam hetum tathagato aha
tesanca yo nirodho
evam vadi maha samano

Yang berarti :

Sang Tathagata telah menjelaskan sebab dan juga terhentinya semua fenomena yang muncul dari suatu sebab. Ini adalah ajaran yang telah disampaikan oleh pertapa Agung.

Ketika saat pertengahan syair ini diucapkan, Upatissa mencapai tingkat kesucian sotapatti.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 10:01 pm

Seperti telah dijanjikan bersama, Upatissa pergi menemui temannya Kolita untuk memberitahukan bahwa ia telah menemukan Dhamma sejati. Kemudian dua sahabat tersebut, disertai dengan dua ratus lima puluh pengikutnya, pergi menemui Sang Buddha yang waktu itu berada di Rajagaha. Ketika mereka tiba di Vihara Veluvana, mereka mohon izin untuk memasuki pasamuan bhikkhu, dan keduanya, Upatissa dan Kolita, beserta dua ratus lima puluh pengikutnya, diterima sebagai bhikkhu. Upatissa, anak dari Sari, dan Kolita, anak dari Moggali, kemudian dikenal sebagai Sariputta dan Moggallana.

Segera setelah penerimaan mereka dalam pasamuan bhikkhu, Sang Buddha menjelaskan Dhamma secara terperinci kepada mereka. Moggallana dan Sariputta mencapai tingkat kesucian Arahat masing-masing pada akhir hari ke tujuh dan hari ke lima belas.

Y.A.Sariputta selalu mengingat bahwa ia telah dapat bertemu dengan Sang Buddha, dan mencapai keadaan tanpa kematian melalui Y.A.Assaji. Jadi, ia selalu menghormat dengan cara membungkukkan badan dimana gurunya berada dan selalu tidur dengan kepala menghadap ke arah yang sama.

Bhikkhu-bhikkhu lain yang tinggal bersamanya di Vihara Jetavana salah mengartikan tindakannya dan berkata kepada Sang Buddha, "Bhante! Y.A.Sariputta masih menyembah ke bermacam-macam arah Timur, Selatan, Barat, Utara, Atas, dan Bawah, seperti yang dilakukannya sebagai seorang brahmana muda. Nampaknya ia belum meninggalkan kepercayaan lamanya."

Sang Buddha memanggil Yang Ariya Sariputta dan, Sariputta menjelaskan pada Sang Buddha bahwa ia hanya menghormat dengan membungkukkan badan kepada gurunya, Y.A.Assaji, dan ia tidak menyembah ke bermacam-macam arah. Sang Buddha puas dengan penjelasan yang diberikan oleh Y.A. Sariputta dan berkata kepada bhikkhu-bhikkhu yang lain, "Para bhikkhu! Sariputta tidak menyembah ke bermacam-macam arah. Ia hanya menghormat dengan membungkukkan badan kepada gurunya, karena melalui dialah ia dapat mencapai 'Keadaan Tanpa Kematian'. Adalah hal yang benar dan tepat baginya untuk menghormat kepada guru seperti itu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 392 berikut :

Apabila melalui orang lain seseorang dapat mengenal Dhamma
sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha,
maka hendaklah ia menghormati orang tersebut,
seperti seorang brahmana menghormati api sucinya

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 10:13 pm

Kisah Jatila, Seorang Brahmana

DHAMMAPADA XXV, 393

Suatu ketika seorang pertapa brahmana berpikir sendiri bahwa Sang Buddha menyebut pengikutnya 'brahmana' dan bahwa dirinya adalah brahmana karena kelahirannya, seharusnya juga disebut seorang 'brahmana'. Karena berpikir demikian, ia pergi menemui Sang Buddha dan mengemukakan pandangannya.

Tetapi Sang Buddha menolak pandangannya dan berkata, "O brahmana, Aku tidak menyebut seseorang brahmana karena ia membiarkan rambutnya terjalin atau hanya karena kelahirannya. Aku menyebut seseorang brahmana; hanya jika ia secara penuh memahami 'Empat Kebenaran Mulia' ."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 393 berikut :

Bukan karena rambut di jalin, keturunan, ataupun kelahiran,
seseorang menjadi brahmana.
Tetapi orang yang memiliki kejujuran dan kebajikan
yang pantas menjadi seorang 'brahmana' , orang yang suci.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 10:16 pm

Kisah Seorang Brahmana Penipu

DHAMMAPADA XXV, 394

Suatu ketika, seorang brahmana penipu memanjat sebatang pohon dekat batas kota Vesali dan membiarkan dirinya tergantung terbalik seperti seekor kelelawar pada salah satu cabang/ranting pohon tersebut.

Dari posisi yang sangat aneh ini, ia terus berkomat-kamit, "O, manusia! Bawakan aku seratus kepala sapi, banyak keping perak dan sejumlah budak. Jika kamu tidak membawakannya untukku, dan jika aku jatuh dari pohon ini dan meninggal dunia, maka kotamu ini pasti akan hancur."

Orang-orang kota tersebut, karena takut bahwa kotanya akan hancur jika brahmana tersebut jatuh dan meninggal dunia, membawakan semua yang dimintanya dan memohon dengan sangat padanya untuk turun.

Para bhikkhu yang mendengar kejadian ini memberitahu Sang Buddha, dan Sang Buddha menjawab bahwa seorang penipu hanya dapat memperdayai orang-orang bodoh tetapi bukan orang-orang yang bijaksana.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 394 berikut :

Wahai orang bodoh,
apa gunanya engkau menjalin rambutmu serta
mengenakan pakaian kulit menjangan?
Engkau hanya membersihkan bagian luarmu,
tetapi hatimu masih penuh dengan kotoran.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 10:19 pm

Kisah Kisagotami

DHAMMAPADA XXV, 395

Pada suatu kesempatan, Sakka, raja dewa, datang bersama dengan para pengikutnya untuk menghormat Sang Buddha. Pada saat yang bersamaan, Kisagotami Theri, dengan kemampuan batin luar biasa (kesaktian) yang dimilikinya datang melalui angkasa untuk menghormat Sang Buddha. Tetapi ketika ia melihat Sakka dan rombongannya sedang menghormat Sang Buddha, ia menarik diri.

Sakka, yang melihat wanita tersebut, bertanya kepada Sang Buddha siapakah wanita tersebut, dan Sang Buddha menjawab, "O, Sakka! Ia adalah muridKu, Kisagotami. Suatu ketika, ia datang kepadaKu dengan dukacita dan penderitaan karena kehilangan anak laki-lakinya dan Aku membuatnya melihat kenyataan alamiah tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan dan ketanpa-intian dari segala sesuatu yang berkondisi.

Sebagai hasilnya ia mencapai tingkat kesucian sotapatti. Setelah masuk dalam pasamuan bhikkhuni, ia menjadi seorang arahat. Ia adalah salah satu dari pengikut wanita utama-Ku, dan tidak ada bandingnya dalam hasil latihan pertapaan, yang mengenakan jubah yang terbuat dari potongan-potongan kain tak terpakai."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 395 berikut :

Seseorang yang mengenakan jubah kain bekas (pamsukula),
kurus, otot-otot terlihat pada seluruh tubuhnya,
bersemadi seorang diri dalam hutan'
maka ia Ku-sebut seorang 'brahmana'

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 10:21 pm

Kisah Seorang Brahmana

DHAMMAPADA XXV, 396

Suatu ketika, seorang brahmana dari Savatthi berpikir bahwa karena Sang Buddha menyebut para pengikutnya 'brahmana', ia seharusnya juga disebut seorang 'brahmana' karena ia lahir dari orang tua brahmana.

Ketika ia menceritakan hal ini kepada Sang Buddha, Sang Buddha memberi jawaban padanya, "O, brahmana! Aku tidak menyebut seseorang sebagai seorang brahmana hanya karena ia dilahirkan oleh orang tua brahmana. Aku menyebutnya seorang brahmana hanya jika ia terbebas dari kekotoran batin dan telah memotong semua keterikatan pada kehidupan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 396 berikut :

Aku tidak menyebutnya seorang 'brahmana' hanya karena ia berasal dari keluarga brahmana
atau karena ia lahir dari kandungan seorang ibu brahmana.
Apabila dirinya masih penuh dengan noda,
maka ia hanyalah seorang brahmana karena keturunan.
Tetapi orang yang tanpa noda dan telah bebas dari semua ikatan,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 11:51 pm

Kisah Uggasena, Anak dari Seorang Hartawan

DHAMMAPADA XXV, 397

[kisah ini merupakan kelanjutan Dhammapada XXIV, 348]

Setelah menikah dengan seorang penari dari suatu rombongan sirkus, Uggasena dilatih oleh ayah mertuanya yang merupakan seorang pemain akrobat, sehingga ia menjadi sangat ahli di bidang akrobatik. Suatu hari ketika ia sedang datang mendemonstrasikan keahliannya, Sang Buddha datang ke tempat itu. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Uggasena mencapai tingkat kesucian arahat, ketika ia sedang melakukan atraksi yang hebat sekali di puncak dari sebatang galah yang panjang.

Setelah itu, ia turun dai galah dan memohon dengan sangat kepada Sang Buddha untuk menerimanya sebagai seorang bhikkhu dan kemudian ia diterima dalam pasamuan bhikkhu.

Suatu hari, ketika para bhikkhu yang lain menanyakan padanya apakah ia tidak mempunyai segala macam perasaan takut ketika sedang turun dari tempat yang amat tinggi (sekitar sembilan puluh kaki), ia mengatakan tidak. Para bhikkhu tersebut menanggapi dan mengartikan hal itu sebagai cara Uggasena untuk menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian arahat.

Oleh karena itu, mereka pergi menemui Sang Buddha dan berkata, "Bhante! Uggasena menyatakan diri sebagai seorang arahat; dia pasti mengatakan suatu kebohongan." Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, seseorang yang telah memotong semua belenggu, seperti murid-Ku Uggasena, tidak lagi memiliki ketakutan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 397 berikut :

Ia telah memotong semua belenggu,
tidak lagi gemetar,
yang bebas dan telah mematahkan semua ikatan,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Thu Apr 01, 2010 11:53 pm

Kisah Dua Brahmana

DHAMMAPADA XXV, 398

Pada suatu ketika tinggallah di Savatthi dua orang brahmana, yang masing-masing mempunyai seekor sapi jantan. Masing-masing menyatakan bahwa sapi jantan miliknyalah yang lebih baik dan lebih kuat. Akhirnya, mereka setuju untuk membawa hewan milik mereka ke dalam suatu uji coba.

Mereka pergi ke tepi sungai Aciravati dan mengisi sebuah gerobak dengan pasir. Satu demi satu sapi-sapi tersebut menarik gerobak tersebut, tetapi sia-sia, karena gerobak tersebut tidaklah bergerak dan hanya talinya yang putus.

Para bhikkhu yang melihat hal tersebut memberitahukannya kepada Sang Buddha, dan Sang Buddha berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Adalah sangat mudah untuk memutuskan tali pengikat yang dapat engkau lihat dengan matamu; siapapun dapat memutuskannya atau memotongnya. Tetapi murid-Ku, seorang bhikkhu, seharusnya memotong ikatan itikad jahat, dan tali kulit dari nafsu keinginan yang ada di dalam dirimu dan yang mengikatmu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 398 berikut :

Ia yang telah memotong sabuk kebencian,
tali kulit nafsu keinginan dan tali rami pandangan keliru
serta semua kekotoran batin laten (anusaya);
ia yang telah menyingkirkan kayu penghalang (kebodohan)
dan menyadari kebenaran,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'
Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:32 am

Kisah Brahmana Bersaudara Yang Kasar

DHAMMAPADA XXV, 399

Suatu ketika ada seorang brahmana, yang istrinya mempunyai kebiasaan latah/mengatakan tanpa berpikir terlebih dahulu beberapa kata-kata kapan saja ia bersin, atau ketika sesuatu/seseorang menyentuhnya tanpa sadar.

Suatu hari, brahmana itu mengundang beberapa teman-temannya untuk makan dan tiba-tiba istri brahmana mengucapkan beberapa kata tanpa dipikir terlebih dahulu. Karena ia adalah seorang sotapanna, kata-kata "Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa" secara otomatis keluar dari mulutnya.

Kata-kata pemuliaan bagi Sang Buddha ini sangat tidak disukai oleh suaminya, yang seorang brahmana. Sehingga, dalam kemarahannya, ia pergi menemui Sang Buddha berharap untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang menantang Sang Buddha.

Pertanyaan pertamanya adalah, "Apakah yang harus kita bunuh untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai?" dan pertanyaan keduanya adalah, "Membunuh Dhamma yang mana Anda setujui?"

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, "O, brahmana untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai, seseorang harus dapat membunuh kebencian (dosa). Membunuh kebencian seseorang adalah yang disenangi dan dipuji oleh para Buddha dan para arahat."

Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha, brahmana tersebut menjadi sangat terkesan dan puas dengan jawaban tersebut, sehingga ia mohon untuk diijinkan masuk dalam pasamuan bhikkhu. Ia diterima masuk dalam pasamuan bhikkhu dan kelak ia menjadi seorang arahat.

Brahmana ini mempunyai seorang saudara laki-laki yang sangat terkenal karena kata-kata hinaannya dan dikenal sebagai Akkosaka Bharadvaja, Bharadvaja yang suka menghina/berkata kasar. Ketika Akkosaka Bharadvaja mendengar bahwa saudara laki-lakinya telah masuk dalam pasamuan bhikkhu, ia menjadi sangat marah. Ia langsung pergi ke vihara dan berkata kasar kepada Sang Buddha.

Sang Buddha pada gilirannya bertanya, " O,brahmana, kita misalkan, engkau menawarkan beberapa makanan kepada beberapa tamu dan mereka meninggalkan rumah tanpa mengambil makanan tersebut. Karena tamu tersebut tidak menerima makananmu itu, kemudian makanan itu menjadi milik siapa ?"

Brahmana tersebut menjawab, bahwa makanan itu menjadi miliknya.

Setelah menerima jawaban tersebut Sang Buddha berkata, "Dengan cara yang sama, O brahmana, karena Aku tidak menerima hinaan/kata-kata kasarmu, maka hinaan tersebut akan kembali kepadamu."

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:32 am

Akkosaka Bharadvaja dengan segera menyadari kebijaksanaan dari kata-kata tersebut dan ia menaruh rasa hormat kepada Sang Buddha. Ia juga memasuki pasamuan bhikkhu, kemudian ia menjadi seorang Arahat.

Setelah Akkosaka Bharadvaja memasuki kelompok, dua saudara laki-laki ini juga datang menemui Sang Buddha dengan tujuan yang sama yaitu menghina/berkata kasar kepada Sang Buddha. Mereka juga dibuat melihat cahaya Kebenaran oleh Sang Buddha dan mereka juga, pada gilirannya memasuki pasamuan. Akhirnya, mereka berdua juga menjadi arahat.

Suatu sore pada saat berkumpulnya para bhikkhu, para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha, "O betapa indahnya dan betapa agungnya kebajikan Sang Buddha ! Empat brahmana bersaudara datang kemari untuk menghina Sang Buddha; daripada berdebat dengan mereka; Beliau membuat mereka melihat cahaya, dan sebagai hasilnya, Sang Buddha telah menjadi pelindung bagi mereka."

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! karena Aku sabar dan menahan diri dan tidak melakukan kesalahan kepada mereka yang melakukan kesalahan kepadaKu, Aku menjadi pelindung bagi banyak orang. "

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 399 berikut :

Seseorang yang tidak marah, yang dapat menahan hinaan,
penganiayaan, dan hukuman
yang memiliki senjata kesabaran,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:36 am

Kisah Sariputta Thera

DHAMMAPADA XXV, 400

Ketika Sang Buddha sedang menetap di Vihara Veluvana, Y.A. Sariputta disertai dengan lima ratus bhikkhu, memasuki desa Nalaka dan berdiri di muka pintu rumah ibunya sendiri untuk berpindapatta. Ibunya mengundang mereka masuk ke dalam rumah.

Ketika ia sedang memberikan makanan kepada anaknya, ia berkata, "O, kau pemakai barang yang tersisa, kau yang telah meninggalkan delapan puluh mata uang crore, untuk menjadi seorang bhikkhu, kau telah menghancurkan kami."

Kemudian ia memberikan makanan kepada para bhikkhu yang lain, dan berkata kepada mereka dengan kasar, "Kalian semua telah menggunakan anakku sebagai pembantu kalian, sekarang makanlah makananmu."

Y.A. Sariputta tidak berkata apapun ataupun menanggapinya tetapi beliau hanya dengan lembut hati mengambil mangkuk tempat makanan dan pulang kembali ke vihara.

Setelah tiba di vihara, para bhikkhu memberitahu Sang Buddha bagaimana Y.A. Sariputta dengan telah bersikap sabar, dan menahan diri terhadap kata-kata hinaan dari ibunya. Kepada mereka, Sang Buddha mengatakan bahwa para arahat tidak pernah marah, mereka tidak pernah kehilangan kesabarannya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 400 berikut :

Seseorang yang telah bebas dari kemarahan, taat, bajik,
bebas dari nafsu keinginan, terkendali
dan yang memiliki tubuh ini sebagai tubuh-akhir,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:38 am

Kisah Uppalavanna Theri

DHAMMAPADA XXV, 401

Suatu waktu beberapa bhikkhu sedang membicarakan tentang Arahat Uppalavanna Theri yang telah diganggu oleh Nanda muda, yang kemudian ditelan bumi. Dalam kaitan ini, mereka bertanya kepada Sang Buddha apakah arahat tidak menikmati kesenangan hawa nafsu karena mereka mempunyai susunan tubuh yang sama seperti layaknya orang lain.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! Para arahat tidak menikmati kesenangan hawa nafsu; mereka tidak menuruti kehendak dalam kesenangan hawa nafsu, karena mereka tidak lagi melekat pada objek indria dan pada kesenangan hawa nafsu, seperti air yang tidak melekat pada daun teratai atau biji lada yang berada pada ujung jarum."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 401 berikut :

Seseorang yang tidak lagi melekat pada kesenangan-kesenangan indria,
seperti air di atas daun teratai atau
seperti biji lada diujung jarum,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:42 am

Kisah Seorang Brahmana Tertentu

DHAMMAPADA XXV, 402

Ada seorang budak muda milik seorang brahmana. Suatu hari, setelah melarikan diri dari rumah tuannya, ia memasuki pasamuan bhikkhu, dan pada saatnya ia mencapai tingkat kesucian arahat.

Pada satu kesempatan, ketika ia sedang pergi untuk berpindapatta dengan Sang Buddha, bekas tuannya dahulu, seorang brahmana melihat dan menariknya dengan kuat dengan menggunakan seutas tali. Ketika Sang Buddha menanyakan apa permasalahannya, brahmana tersebut menjelaskan bahwa bhikkhu muda tersebut pernah menjadi budaknya.

Kepadanya Sang Buddha berkata, "Bhikkhu ini telah meletakkan beban (dari khandha-khandha/ kelompok-kelompok kehidupan)."

Brahmana itu mencerna hal tersebut dan mengartikan bahwa budaknya telah menjadi seorang arahat. Untuk lebih meyakinkan dirinya ia bertanya kepada Sang Buddha apakah benar bahwa bhikkhu tersebut telah menjadi seorang arahat, dan Sang Buddha menegaskan pernyataan-Nya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 402 berikut :

Dalam dunia ini,
seseorang yang telah menyadari akhir penderitaannya sendiri
yang telah meletakkan beban dan tak terikat,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.

Brahmana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:45 am

Kisah Khema Theri

DHAMMAPADA XXV, 403

Suatu malam, Sakka, raja dewa, datang dengan para pengikutnya untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Ketika mereka sedang bersama Sang Buddha, Khema Theri, dengan kemampuan batin luar biasanya juga datang melalui angkasa untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Tetapi karena Sakka dan rombongannya berada di sana bersama Sang Buddha, ia hanya menyembah dengan membungkukkan badan kepada Sang Buddha, dan segera meninggalkan beliau.

Sakka bertanya kepada Sang Buddha siapakah bhikkhuni tadi dan Sang Buddha menjawab, "Ia adalah salah satu muridKu yang paling terkenal; ia dikenal sebagai Khema Theri. Ia tidak ada bandingnya di antara para bhikkhuni dalam hal kebijaksanaan, dan ia mengetahui bagaimana membedakan jalan yang benar dari jalan yang salah."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 403 berikut :

Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai, dan terlatih
dalam membedakan jalan yang benar dan salah,
yang telah mencapai tujuan tertinggi,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:53 am

Kisah Tissa Thera

DHAMMAPADA XXV, 404

Tissa Thera, setelah menerima sebuah objek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke suatu sisi gunung. Di sana, menemukan sebuah gua yang sesuai baginya dan ia memutuskan untuk menghabiskan waktu tiga bulan musim hujan (masa vassa) di dalam gua tersebut. Oleh karena tinggal di dalam gua, ia pergi ke desa untuk berpindapatta setiap pagi.

Di desa itu, terdapat seorang wanita yang usianya lebih tua yang secara teratur memberikan dana makanan kepada-nya. Di dalam gua, juga hidup hantu penjaga gua. Karena sang thera memiliki latihan moral (sila) yang baik, hantu gua tersebut tidak berani untuk tinggal di dalam gua yang sama dengan sang thera. Selain itu, ia juga tidak mempunyai keberanian menyuruh sang thera untuk meninggalkan gua. Jadi ia memikirkan suatu rencana yang akan mampu membuatnya menemukan kesalahan sang thera; yang kemudian menyebabkan sang thera tersebut meninggalkan gua.

Hantu gua merasuki anak laki-laki dari wanita tua yang bertempat tinggal di rumah dimana sang thera biasanya pergi untuk menerima dana makanan. Ia menyebabkan anak tersebut bertingkah laku aneh, menolehkan kepalanya ke arah belakang, dan memutar-mutarkan matanya yang terbuka lebar.

Ibu anak itu menjadi kebingungan dan menangis. Hantu gua, yang merasuki anak tadi, kemudian berkata, "Biarkan gurumu, sang thera mencuci kakinya dengan air dan menuangkan air tersebut pada kepala anakmu."

Pada hari berikutnya, ketika sang thera datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan, ia melakukan seperti yang telah dianjurkan oleh hantu gua tadi dan anaknya menjadi tenang dan damai.

Hantu gua kembali ke gua dan menunggu di lubang masuk kedatangan sang thera. Ketika sang thera tiba kembali dari berpindapatta, hantu gua menampakkan dirinya dan berkata. " Akulah hantu penjaga gua ini. O, kamu, tabib, tidak boleh memasuki gua ini."

Sang thera mengetahui bahwa ia telah hidup dalam kehidupan yang bersih sejak ia menjadi thera, jadi ia menjawab bahwa ia tidak ingat mempraktekkan ilmu ketabiban. Kemudian hantu gua menuduhnya bahwa pada pagi hari ia telah menyembuhkan seorang anak muda yang dirasuki oleh raksasa pada rumah wanita tua tersebut. Tetapi sang thera tersebut menyadari hal itu sesungguhnya bukan praktek ilmu ketabiban, dan ia menyadari bahwa bahkan hantu gua tidak dapat menemukan kesalahan yang lain padanya. Hal ini memberinya suatu kepuasan yang sangat mengembirakan (pitti) pada dirinya sendiri, meninggalkan kegiuran (pitti) dan konsentrasi keras menuju 'Meditasi Pandangan Terang' (Vipassana).

Ia kemudian mencapai tingkat kesucian arahat disana, ketika ia sedang berdiri pada lubang masuk gua.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:53 am

Karena sang thera sekarang telah menjadi seorang arahat, ia menasehati hantu gua untuk meninggalkan gua. Sang thera terus menetap di sana sampai akhir vassa, dan kemudian ia kembali menemui Sang Buddha.

Ketika ia menceritakan kepada para bhikkhu yang lain tentang pertemuannya dengan hantu gua, mereka bertanya apakah ia tidak marah terhadap hantu gua ketika ia dilarang masuk ke dalam gua. Sang thera menjawab tidak, tetapi para bhikkhu yang lain tidak mempercayainya. Lalu mereka pergi menemui Sang Buddha dan berkata, "Tissa Thera telah menegaskan dirinya sebagai seorang arahat; ia tidak berbicara yang sebenarnya."

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, murid-Ku Tissa berbicara yang sebenarnya ketika ia berkata bahwa ia tidak marah. Ia telah sungguh-sungguh menjadi seorang arahat. Ia tidak lagi melekat kepada siapapun; ia tidak mempunyai kesempatan untuk marah kepada siapapun ataupun kepada segala sesuatu yang berhubungan dengannya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 404 berikut :

Orang menjauhkan diri dari masyarakat umum maupun para pertapa,
yang mengembara tanpa tempat tinggal tertentu
dan sedikit kebutuhannya,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by co_ols on Fri Apr 02, 2010 12:57 am

Kisah Seorang Bhikkhu Tertentu

DHAMMAPADA XXV, 405

Seorang bhikkhu seteleh menerima pelajaran objek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan untuk melatih meditasi. Setelah ia mencapai tingkat kesucian arahat, ia kembali menemui Sang Buddha untuk menyampaikan penghormatan yang besar dan mendalam kepada Beliau.

Dalam perjalanannya ia melewati sebuah desa. Baru saja ia melewati desa tersebut, seorang wanita yang baru saja bertengkar dengan suaminya, keluar dari rumahnya dan mengikuti sang bhikkhu. Sang suami yang berjalan mengikuti istrinya, melihat istrinya berada di belakang sang bhikkhu, berpikir bahwa bhikkhu ini akan akan membawa pergi istrinya.

Ia berteriak pada sang bhikkhu dan mengancam akan memukulnya. Istrinya mohon dengan sangat pada sang suami untuk tidak memukul bhikkhu tersebut, tetapi hal itu membuatnya makin marah. Akibatnya, bhikkhu itu dipukul berulang kali sehingga mengalami luka parah oleh sang suami. Setelah memukuli bhikkhu tersebut sepuas hatinya, ia pergi bersama istrinya dan sang bhikkhu meneruskan perjalanannya.

Setibanya di Vihara Jetavana, para bhikkhu yang lain melihat luka-luka memar di seluruh badan sang bhikkhu, sehingga mereka merawat luka tersebut. Ketika mereka bertanya apakah ia tidak marah kepada orang yang memukulnya berulang kali, ia menjawab tidak. Oleh karena itu para bhikkhu yang lain pergi menemui Sang Buddha dan memberitahukan bahwa sang bhikkhu dengan cara seperti itu menegaskan dirinya telah mencapai tingkat kesucian arahat.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! Para arahat telah menyisihkan/ meninggalkan tongkat dan pedang. Mereka tidak lagi menjadi marah bahkan jika mereka dipukul." Demikian., Sang Buddha menegaskan bahwa bhikkhu tadi telah, benar-benar, menjadi arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 405 berikut :

Seseorang yang tidak lagi menganiaya makhluk-makhluk lain,
baik yang kuat maupun yang lemah,
yang tidak membunuh atau mengajurkan orang lain membunuh,
maka ia Kusebut seorang 'brahmana'.

Sponsored content

Re: BAB XXVI, Brahmana Vagga : Brahmana

Post by Sponsored content Today at 3:21 am


    Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 3:21 am