Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


Ada Mawar di Sudut Hati

Share

yusuf
5th Grade
5th Grade

Jumlah posting : 246
Points : 910
Join date : 22.10.09

Ada Mawar di Sudut Hati

Post by yusuf on Sun Nov 15, 2009 6:52 am

Menyatu dengan alam terasa sekali dalam konsep rumah tinggal Iwan Abdulrachman, sesepuh kelompok penjelajah alam Wanadri di kawasan Cigadung, Bandung.

Bangunan tidak dibiarkan masif, melainkan dipecah dalam empat kelompok di pinggir area tempat tinggal sehingga memberi kesan lapang. Tanah berundak yang bentuknya setengah melingkar membuat pintu masuk ke rumah Iwan ada tiga dan karenanya Iwan punya empat nomor rumah.

Bangunan tempat tinggal di sisi kiri menempel pada undakan menurun sehingga terasa menyatu dengan sekeliling. Bangunan banyak memakai kayu hingga ke dalam rumah, seperti untuk lantai dan tangga. Perapian untuk menghalau dingin dibuat dari bata tanpa plester.

Pohon kayu tahunan mendominasi vegetasi di rumah Iwan meski si empunya rumah tak pernah menghitung jenis pohon di sana. Selain pinus, ada bambu yang menaungi tempat memanggang makanan, satu di depan rumah besar yang sekarang ditinggali Iwan, satu lagi di sisi kiri dekat gazebo.

Pohon salam menjulang tinggi di antara pinus dan kerap didatangi burung gelatik pemakan biji. Tekukur singgah memakan biji rumput dan bajing berlompatan dari pohon ke pohon.

Pohon jambu mawar, kata Iwan, membantu mengumpulkan air dan memang di sana air tanah jernih mengalir tidak pernah berhenti. Di dekat bengkel kerja terdapat puluhan semaian pinus dan mahoni untuk diberikan kepada yang berminat. Ini bagian dari kepedulian Iwan supaya sebanyak mungkin orang cinta lingkungan, paling tidak dengan menanam pohon.

Iwan juga memiliki pohon aren yang buahnya kerap diolah menjadi kolang-kaling dan niranya diminum. ”Saya dapat bibitnya dari hutan, waktu itu belum ditemukan cara menyemai kecuali biji dari kotoran luwak. Sekarang LIPI sudah bisa,” tutur Iwan.

”Saya banggakan ke semua orang lalu tahun lalu kena petir. Mungkin saya tidak boleh terlalu pamer.… Saya juga cerita soal jambu mawar, mudah-mudahan enggak ada apa-apa…,” tambah Iwan. Untungnya Iwan punya dua semaian aren. ”Mungkin baru berbuah 10 atau 20 tahun lagi. Bisa jadi saya tidak bisa melihat buahnya, cucu saya yang akan merasakan.”

Selalu merendah di hadapan alam adalah sikap para pencinta alam sejati seperti Iwan. Refleksinya antara lain hadir dalam deretan ungkapan bijak tentang alam suku Indian Amerika Utara di bengkel kerja, antara lain: ”Make my hands respect the things you have made and my ears sharp to hear your voice” dan ”I seek strength not to be greater than my brother but to fight my greatest enemy, myself”.

”Kita sebenarnya punya banyak kearifan lokal, sayangnya tidak tertulis,” tambah Iwan.

Di antara pohon-pohon tahunan itu ada satu rumpun mawar berbunga merah jambu di dekat gazebo di mana kami berbincang. ”Mawar ini saya ambil dari rumah orangtua. Mawar yang sama dulu bunganya tiap pagi saya kirim ke istri. Dia masih SMP, kami beda usia empat tahun. Kalau tiap hari dikirimi bunga, pasti luluh,” tambah Iwan diiringi tawa candanya.

Dari gazebo berisi dua deret meja dan bangku kayu, kami bisa melihat mobil Discovery. Mobil itu dimodifikasi sehingga memuat tangki air lengkap dengan keran, kompor gas, dua kotak besar penyimpan perbekalan, tempat mandi dan WC portabel, serta atapnya dimodifikasi sehingga bisa menjadi tenda untuk tidur tiga orang.

Mobil ini dibawa Iwan ke Aceh pascatsunami, Desember 2004, dan ke Padang saat gempa lalu. ”Kami datang membantu dengan tidak merepotkan, bawa peralatan medis lalu kami memasak. Bantuan makanan banyak, tetapi siapa yang memasak untuk para dokter sukarelawan itu,” jelas Iwan.

    Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 3:18 am