Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Share

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:35 am

Hal. 1

PELAJARAN KETIGA


CARA-CARA UNTUK MENGUMPULKAN PAHALA



1
Keluarga yang hidup dalam kebajikan,
menghasilkan keturunan yang baik


Dahulu, ada seorang wanita bernama Yen. Sebelum dia setuju untuk menikahkan puterinya dengan seorang pria yang kelak menjadi ayah darii Confucius, dia hanya mensyaratkan bahwa leluhur si pria telah mengumpulkan banyak pahala dan berbuat kebajikan, tanpa memperdulikan apakah si pria cukup kaya. Dia yakin bahwa jika leluhur mengumpulkan banyak pahala, pasti keturunannya akan sangat baik.

Confucius (551 - 479 SM) juga memuji Sun (salah satu kaisar pertama China) atas kesalehannya. Untuk itu, Sun terkenal selama ribuan tahun dan keturunannya terkemuka selama sangat banyak generasi.

Saya akan memberikan contoh yang lain. Di propinsi Fujian, ada seorang yang terkemuka. Yang Rang, yang berkedudukan sebagai Instruktur kerajaan. Leluhurnya adalah orang perahu yang kehidupannya didapat dari membantu orang-orang menyeberang sungai. Setiap kali terjadi badai dan banjir, air akan menghancurkan rumah-rumah. Sering manusia, binatang maupun barang-barang dihanyutkan melalui sungai. Saat perahu lain berlomba mengumpulkan barang-barang, hanya buyut dan kakeknya yang terus-menerus menolong orang, mereka tidak akan mengambil barang-barang yang hanyut. Orang-orang kampung menganggap mereka sungguh bodoh. Sesudah ayah Yang Rong dilahirkan, keluarga Yang menjadi sangat kaya. Suatu hari seorang pendeta Tao mendatangi keluarga Yang dan berkata.

"Leluhur anda telah mengumpulkan banyak pahala; keturunan mereka pasti akan menikmati kekayaan dan kemahsyuran. Saya mengetahui suatu tempat yang sangat baik untuk tempat kuburan leluhur." Keluarga Yang Rong mengikuti saran yang telah diberikan dan kemudian Yang Rong dilahirkan, dia lulus dari ujian pemerintahan dalam usia muda dan mendapatkan penunjukkan. Kaisar malah juga memberikan penghargaan kepada kakek dan buyut Yang Rong. Keturunan mereka masih termashyur hingga saat ini.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:37 am

Hal.2

2
Memberi adalah lebih baik dari menerima


Contoh yang lain adalah Yang Zi-cheng, berasal dari negara bagian Jin dan merupakan staf dalam pengadilan negara. Dia merupakan orang yang berwelas-kasih. Suatu ketika saat hakim sedang menghukum seorang terdakwa, walaupun telah memukulnya hingga berdarah si hakim tetap masih sangat marah. Yang memohon agar hakim menghentikan menghukum si terdakwa. Si hakim bertanya. "Orang ini telah melanggar hukum, bagaimana saya tidak marah?" . Yang berkata, "Saat penguasa tidak mengikuti Tao, maka orang-orang yang lainpun tidak akan mengikuti Tao pula, sehingga mereka mengabaikan hukum. Jadi dalam kasus ini, kita perlu memberi lebih pengertian." Si hakim kemudian menghentikan hukumannya. Yang berasal dari keluarga yang sangat miskin, tetapi dia tetap tidak pernah menerima suap. Jika terhukum dalam penjara kekurangan makanan, dia selalu membawakan makanan dari rumahnya sendiri walupun itu berarti dia yang akan kelaparan nantinya. Perbuatan mengasihi seperti ini tidak pernah berkurang. Dia mempunyai dua orang putra - si sulung bernama Shou-cheng, dan yang kedua bernama Shou-zhi, dan mereka berdua menjadi sangat terkenal, dan memegang kedudukan penting. Keturunan-keturunan mereka juga sangat terkenal untuk waktu yang lama.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:39 am

Hal.3

3
Melindungi kehidupan
mendapat pembalasan yang berlimpah


Cerita yang lain berasal dari masa dinasti Ming. Di propinsi Fujian ada banyak gerombolan penjahat sehingga tentara kerajaan turun tangan untuk membasminya. Hsieh ditunjuk untuk melaksanakannya. Hsieh terlebih dahulu memastikan bahwa orang yang tidak bersalah tidak ikut terbunuh, dia memberi suatu daftar bandit-bandit yang terlibat dan secara diam-diam memberi bendera putih kepada mereka yang tidak berdosa . Bendera akan dipasang pada pintu rumah mereka yang tidak berdosa, sehingga dengan demikian tentara kerajaan tidak akan salah membunuh. Karena cara kerja yang demikian baik, puluhan ribu orang terselamatkan, dan sebagai hasilnya banyak keturunan Hsieh yang menjadi sangat termashyur.

Contoh yang lain adalah keluarga Ling. Diantara leluhur mereka ada seorang ibu yang sangat pemurah. Dia selalu membuatkan bola nasi untuk diberikan kepada orang miskin. Berapapun yang diminta orang darinya akan diberikan. Ada seorang pendeta Tao yang setiap kali selalu meminta sampai enam–tujuh biji, dan selalu datang tiga kali sehari. Wanita itu selalu memenuhi permintaannya tanpa pernah menunjukkan ekspresi tidak senang.

Pendeta Tao menyadari kesungguhan dan keramahan si wanita dan berkata. "Saya sudah makan bola nasi darimu selama tiga tahun tanpa pernah memberi balasan sebagai tanda terima kasihku, tetapi saya ingin memberitahu padamu bahwa di belakang rumahmu ada tempat yang baik untuk dipergunakan sebagai tempat kuburan leluhurmu. Jumlah keturunanmu yang mempunyai kedudukan di pemerintahan akan sama dengan jumlah butiran dalam satu pound wijen. "Demikianlah pada generasi pertama setelah kuburan keluarga dibuat ada sembilan orang yang lulus ujian pemerintahan, demikian juga terjadi pada generasi-generasi selanjutnya.

Orang terkenal lainnya adalah seorang ahli sejarah negara bermarga Feng. Suatu hari, dalam perjalanan ke sekolah ayahnya melihat seorang pria yang hampir mati kedinginan pada hamparan salju. Dia segera membuka jubahnya dan memakaikannya pada si pria untuk selanjutnya membawanya pulang. Malam tersebut ia bermimpi dan diberitahu, "Saat anda membantu pria tersebut, anda melakukannya dengan sepenuh hati, dan saya akan mengirim jendral terkenal pada dinasli Sung, Han-chi untuk menjadi putramu." Belakangan anak tersebutpun lahir dan diberi nama Chi.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:41 am

Hal.4

4
Orang hidup dalam kebajikan,
dihormati semua makhluk



Cerita lain tentang orang terkenal adalah Ying yang tinggal di Tai-zhou. Saat ia muda ia terbiasa belajar di pinggiran desa. Pada malam hari, ia sering mendengar suara arwah-arwah tapi ia tidak pernah takut. Suatu hari ia mendengar ada arwah yang berkata. "Suami dari seorang wanita telah pergi untuk waktu yang lama dan belum kembali juga, mertua si wanita mengira bahwa putranya sudah meninggal dan mendesak menantunya untuk menikah lagi. Besok malam si wanita bermaksud untuk bunuh diri, segera dia akan menggantikan saya sehingga saya dapat dilahirkan kembali." Tuan Ying yang mendengar hal ini segera menjual sebidang tanahnya dan laku seharga empat lian (suatu satuan berat) perak. la menulis sepucuk surat atas nama suami si wanita dan mengirimkan peraknya ke rumah si wanita. Si ibu menyadari bahwa tulisan pada surat bukan tulisan putranya, tetapi dia kemudian berpikir, "Mungkin suratnya palsu tetapi perak didalamnya tidak mungkin menipu. Buat apa seseorang ingin mengirimku perak ini? Mungkin putraku memang masih hidup dan saya sebaiknya tidak mendesak menantuku untuk menikah lagi."

Dan selanjutnya putranya betul-betul pulang. Kemudian Tuan Ying mendengar arwah berkata, ”Seharusnya saya dapat dilahirkan kembali tetapi Tuan Ying ikut campur?" Arwah yang lain berkata, "Mengapa kamu tidak balas dendam saja?" Arwah pertama berkata,”Tidak, karena kebaikannya, dia akan menjadi sangat terkenal. Bagaimana mungkin saya dapat menyakitinya?" Tuan Ying selanjutnya tetap banyak berbuat kebajikan. Setiap ada yang dalam kelaparan dia akan mengambil uangnya untuk membantu, demikian dia lakukan terhadap semua orang yang dalam kesulitan. Dan setiap kali terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan harapannya, dia segera mencari kekurangan di dalam dirinya daripada mengeluhkan hal-hal di luar dirinya. Sampai sekarangpun keturunannya masih sangat terkenal.

Ada orang lain, Tuan Hsu, yang mempunyai ayah yang sangat kaya. Kapan saja terjadi kelaparan dia selalu menyumbangkan makanan dalam jumlah banyak. Suatu hari dia mendengar ada arwah yang berkata, 'Tidak bohong, akan ada seseorang dari keluarga Hsu yang lulus ujian pemerintahan:' Hal ini berlangsungnya selama beberapa hari. Dan benar saja, tahun tersebut Hsu lulus dalarn ujian pemerintahan. Mulai saat itu ayahnya lebih rajin lagi berbuat kebajikan, baik itu dalam bentuk pembangunan jembatan atau perlindungan terhadap pengelana dan pendeta. Kemudian dia mendengar arwah berkata lagi," betul-betul, keluarga Hsu akan ada yang lulus ujian yang lebih tinggi lagi." Dan benar saja terjadi, kemudian Hsu menjadi gubernur pada dua propinsi.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:42 am

Hal.5

5
Menjalankan keadilan
adalah sesuai dengan kehendak yang maha kuasa


Orang yang lain bernama Tu. la bekerja di pengadilan dan selalu melewatkan malam hari di penjara untuk mengunjungi orang-orang hukuman. Jika dia bertemu dengan orang yang sebenarnya tidak bersalah, dia akan menulis laporan rahasia kepada hakim sehingga pada saat persidangan, hakim akan dapat menyelesaikan masalahnya secara adil. Dengan cara demikian ia berhasil membebaskan sepuluh orang yang tidak bersalah. Semua orang ini sangat berterima kasih kepada Tuan Tu. Tuan Tu kemudian menulis surat kepada Hakim negara, Di seluruh kerajaan ada demikian banyak orang tidak bersalah yang dipenjarakan. Saya mengusulkan setiap lima tahun seorang agen-agen khusus dikirim untuk memeriksa di penjara-penjara agar orang yang tidak bersalah dapat dibebaskan. "Hakim negara setuju dan Tu dipilih menjadi salah satu agen pengurangan hukuman. Suatu malam dia bermimpi bahwa Tuhan di kejauhan berkata kepadanya : ”Dalam kehidupanmu, sebenarnya anda ditakdirkan tidak akan mempunyai seorang putra, tetapi perbuatanmu dalam mengurangi hukuman orang yang tidak bersalah adalah sejalan dengan kehendak Surga, sehingga penguasa Surga akan menghadiahi kamu tiga orang putra. Mereka semuanya akan mencapai posisi yang tinggi." Tidak lama kemudian, isterinya hamil dan melahirkan berturut-turut tiga orang putra yang semuanya menjadi orang yang sangat terkenal.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:44 am

Hal.6

6
Menghormati para Suci dan melindungi Dharma,
membuat anak cucu hidup dalam kesejahteraan



Orang yang lain, Bao-ping, merupakan putra ketujuh dari hakim Ci-yang yang menikah ke keluarga Yuan. Dia adalah teman baik dari ayah saya. Dia sangat berbakat dan mempunyai pengetahuan yang luas. Suatu ketika saat berkeliling Tai-hu, yang merupakan danau terkenal di China, dia sampai ke suatu desa dan melihat suatu biara yang tidak terpelihara dan ada suatu patung Bodhisattva Kuan Yin yang basah di tengah hujan. Dia mengeluarkan semua uangnya, sejumlah sepuluh lian perak, dan memberinya kepada biarawan dan berkata, "Ini untuk memperbaiki biara." Biarawan itu berkata. "Hal ini membutuhkan uang yang sangat banyak, kami takut tidak dapat memenuhi harapanmu." Bao-ping kemudian mengeluarkan semua kain dan pakaiannya dan memberikannya ke si biarawan. Walaupun pelayannya telah berusaha menghalanginya dari berbuat hal ini, dia berkata, 'Tidak apa-apa. Asal patung tersebut tidak rusak, apa artinya tidak mempunyai pakaian." Biarawan berkata, "Memberi uang dan pakaian adalah suatu hal yang mudah, tapi ketulusanmu tidak mudah tercapai." Sesudah biara diperbaiki, dia datang bersama ayahnya dan menginap di biara. Dalam mimpinya Pelindung Dharma datang untuk berterima kasih kepadanya, "Anakmu akan menikmati kemashyuran." Beberapa saat kemudian, putranya, Bing, dan cucunya bersamaan ditunjuk menduduki jabatan dalam pemerintahan.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:45 am

Hal.7

7
Kebajikan yang sebenarnya dan yang palsu



Tentang hal mengumpulkan pahala, dapat dilakukah penjabaran lebih lanjut. Ada kebaikan yang sebenarnya, dan kebaikan yang palsu; Ada kebaikan yang tegas dan kebaikan yang berbelit-belit; Ada kebaikan yang tersembunyi dan ada yang dapat terlihat; Ada perbuatan yang terlihat seperti kebaikan, tetapi sebenarnya bukan; Ada kebaikan yang setengah-setengah dan ada yang sepenuhnya; Ada kebaikan yang besar dan ada yang kecil; Ada pula yang sulit doa yang mudah. Setiap orang harus mendalami lebih lanjut tentang hal ini, agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dikira sebagai kebaikan tetapi ternyata mempunyai akibat yang sebaliknya. Kadang-kadang ada yang berkata, "Si Anu adalah seorang yang dermawan tetapi keturunannya tidak Juga sukses. Sebaliknya orang lain yang berbuat hal-hal tidak baik justru keluarga dan keturunannya menjadi demikian berhasil." Orang yang berkata seperti itu tidak benar-benar mengerti apa yang merupakan kebaikan murni dan apa yang merupakan kejahatan. Jadi penilaian tidak dapat dilakukan dengan sekedar mengamati bentuk luar saja.

Sebagai contoh adalah kebaikan yang sebenarnya atau yang palsu. Memukul dan memaki seseorang, dan mengambil kekayaan seseorang biasanya digolongkan kejahatan. Menghormati seseorang, bersikap sopan terhadap orang lain biasanya digolongkan sebagai kebaikan. Padahal perbuatan seperti ini tidak perlu digolongkan sebagai baik atau buruk, karena kita perlu mempelajari lebih lanjut untuk memahami motivasi di belakang perbuatan-perbuatan ini. Secara umum, jika suatu perbuatan menguntungkan orang ramai, memukul ataupun memaki dapat saja digolongkan sebagai kebaikan; Jika dilakukan untuk keuntungan pribadi, menghormati dan bersikap sopan terhadap orang lain tetap digolongkan sebagai perbuatan buruk. Semua perbuatan yang ditujukan untuk membantu/ keuntungan orang ramai dapat digolongkan sebagai pahala, tetapi sernua yang dilakukan hanya untuk keuntungan sendiri tidak dapat digolongkan sebagai pahala. Apa yang keluar dari dalam hati adalah kebaikan yang sebenarnya; apabila dilakukan hanya untuk diketahui orang lain, itu adalah kebaikan yang palsu. Jika ada yang melakukan berbagai tindakan berbudi tanpa mengharapkan sesuatu, itu adalah kebaikan murni; jika dilakukan dengan pamrih tertentu, maka itu adalah kebaikan yang palsu.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:47 am

Hal.8

8
Kebajikan yang setulus hati dan yang berpamrih


Tentang kebaikan yang tegas dan yang berbelit-belit, biasanya, orang yang berhati-hati dan berpembawaan tenang dianggap sebagai baik, tetapi sebenarnya para suci melihat bahwa mereka yang selalu berterus terang adalah benar-benar baik. Walaupun berhati-hati dan lemah-lembut, belum tentu orang tersebut mempunyai semangat dan cita-cita yang berbudi-luhur. Sebaliknya orang yang berpendirian teguh, berani dan berterus-terang merupakan sikap-sikap yang selalu dapuji oleh para bijaksana. Dalam hal ini, penilaian surga adalah sama dengan penilaian para bijaksana dan berbeda dengan penilaian awam.

Karenanya, kebajikan tidak dapat dilakukan dengan sekedar mengikuti pendapat orang ramai atau untuk menyenangkan orang lain. la harus muncul dari satu-satunya pemikiran untuk membantu dunia dan bukannya menyenangkan dunia. Keinginan yang benar untuk membantu orang lain, adalah kebajikan yang tegas dan sebenarnya. Jika kebajikan hanya dilakukan atas dasar menyenangkan dunia atau bermain dengan dunia, maka itu menjadi kebajikan yang tidak jujur


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:48 am

Hal.9

9
Kebajikan yang tersembunyi dan yang terlihat



Kebaikan juga dapat dibagi atas kebaikan yang tersembunyi dan yang terlihat. Jika seseorang melakukan kebaikan dan dipamerkan kepada orang lain, itu dikategorikan kebaikan yang terlihat. Jika kebaikan dilakukan tanpa keinginan untuk ditunjukkan kepada orang lain, itu menjadi kebaikan yang tidak terlihat. Kebaikan yang terlihat hanya akan menerima balasan berupa reputasi yang baik, tetapi kebaikan yang tersembunyi akan menerima balasan yang berlipat ganda dari Tuhan. Kalau reputasi seseorang melebihi nilai dirinya yang sebenarnya maka hanya akan mengundang kesulitan besar. Ketenaran tidak dapat dianggap sebagai karunia, karena banyak orang yang mempunyai reputasi sering mempunyai ketenaran yang berlebihan, yang tidak mempunyai budi luhur yang sebenar untuk mendasarinya. Itulah sebabnya banyak keluarga yang terkenal mendapatkan kecelakaan. Itulah sebabnya para bijak dahulu kala menasehati bahwa adalah penting untuk tidak mempunyai ketenaran yang melebihi nilai diri yang sebenarnya. Jika ada orang yang tidak melakukan kesalahan apapun tetapi mendapatkan cemoohan, orang yang dapat menerima hal ini dan tidak terganggu olehnya adalah orang yang berbudi. Sering keturunannya menjadi sangat berhasil. Perbedaan antara kebaikan yang terlihat dan yang tersembunyi adalah pada diketahui atau tidak oleh orang lain.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:50 am

Hal.10

10
Perbuatan yang hanya terlihat baik
dan perbuatan yang merupakan kebajikan sebenarnya


Dalam berbuat baik, sering terjadi sesuatu yang terlihat baik tetapi sebenarnya bukan merupakan kebaikan. Sebagai contoh, dahulu di negara Lu, ada peraturan dimana negara akan memberikan penghargaan kepada orang yang bersedia membayar uang tebusan untuk warga yang ditahan oleh negara lain. Murid Confucius yang bernama Zi-gong, sesudah membayar uang tebusan menolak menerima penghargaan tersebut. Sewaktu Confucius mendengar hal ini, beliau memarahi Zi-gong dan berkata, "Kamu salah, karena apapun yang dilakukan seorang ksatria dapal mempengaruhi masyarakat dan menjadi panutan bagi setiap orang. Kamu tidak boleh berbuat sesuatu hanya untuk kepentinganmu. Di negara Lu hanya ada sedikit orang yang berada; kebanyakan orang hidup miskin. Jika kamu memberikan teladan bahwa menerima hadiah merupakan hal yang memalukan, maka orang lainpun tidak akan berani menerima penghargaan tersebut. Jika tanpa penghargaan, dalam keadaan sekarang ini siapa yang bersedia membayar uang tebusan? Tradisi membayar uang tebusan untuk
membawa kembali tahanan akan segera menghilang."

Contoh yang lain adalah sewaktu murid Confucius yang lain, Zi-lu, menyelamatkan seseorang yang hampir tenggelam dan menerima hadiah seekor kerbau sebagai tanda terima kasih. Confucius yang mendengar hal ini berkata, "Baik sekali, sekarang orang-orang di seluruh Lu akan selalu berusaha menolong orang yang hampir tenggelam. Karena ada yang bersedia menolong dan yang lain bersedia membayar, maka akan tercipta suatu hubungan yang baik."

Jika kita menggunakan kedua contoh di alas, pada umumnya Zi-gong yang tidak bersedia menerima uang hadiah akan dinilai sebagai sangat baik dan Zi-lu yang menerima kerbau sebagai hadiah dinilai tidak baik. Tetapi Confucius memandangnya secara berbeda. Saat berbuat sesuatu, perbuatan yang dianggap baik sekalipun, haruslah dilakukan dengan terlebih dahulu mempertimbangkan akibat lainnya yang akan muncul belakangan. Janganlah hanya melihat akibatnya terhadap diri sendiri, tetapi pertimbangkan akibatnya terhadap masyarakat yang lebih besar. Jika saya melakukan sesuatu yang baik tetapi ternyata hasil akhirnya menyakitkan orang lain, maka itu menjadi sesuatu yang kelihatan baik tetapi sebenarnya bukan. Atau sebaliknya, jika suatu sikap atau perbuatan yang umumnya dianggap buruk tetapi hasilnya menguntungkan orang lain, maka itu merupakan kebaikan.

Ada contoh-contoh yang lain tentang apa yang dikira baik tetapi ternyata bukan, misalnya sifat memaafkan dan toleransi yang berlebihan, memuji orang lain secara berlebihan sehingga membuat orang tersebut lupa diri, memenuhi janji kecil yang mengakibatkan kesulitan yang lebih besar kemudian ataupun memanjakan anak kecil; Semua perbuatan ini harus dipertimbangkan kembali


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:51 am

Hal.11

11
Kebajikan yang pantas dan yang tidak pantas



Kebaikan juga ada yang sesuai untuk dilakukan dan sebaliknya ada yang tidak sesuai untuk dilakukan. Saya akan memberikan suatu contoh. Suatu ketika, ada seorang Perdana Menteri bernama Lu. Setelah dia pensiun dan kembali ke desanya, penduduk desa tetap berlaku hormat terhadapnya. Suatu hari seorang penduduk mabuk dan berlaku tidak sopan kepadanya. Tuan Lo tidak merasa terganggu oleh hal itu. Menganggap bahwa itu dilakukan dalam keadaan tidak sadar, Lu tidak menghukum orang tersebut. Tahun berikutnya, orang tersebut semakin memburuk kelakuannya. Dia melakukan sesuatu yang mengakibatkan dia harus dihukum mati. Tuan Lu merasa sangat menyesal. Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Jika ketika itu saya membuatnya disiplin, maka tentu akan dapat memperbaiki kelakuannya sehingga dia tidak berlaku buruk yang membuatnya dihukum mati. Tidak seharusnya saya terlalu lunak terhadap dia." Ini adalah contoh tentang suatu kemurahan hati dapat juga mengakibatkan sesuatu yang salah.

Saya dapat memberikan contoh yang lain tentang bagaimana perbuatan yang buruk ternyata dapat menghasilkan akibat yang baik. Suatu ketika di suatu tempat terjadi kelaparan berkepanjangan dan orang-orang menjadi bengis, dengan terbuka mengambil makanan dari orang lain. Ada seorang yang sangat kaya yang melaporkan hal ini kepada pemerintah. Sesudah beberapa saat, pemerintah belum juga memberi perhatian, sehingga orang-orang menjadi semakin berani dan semakin menghebat kelakuannya. Pada keadaan demikian, keluarga ini sendiri yang turun tangan menghukum orang-orang tersebut. Dengan cara demikian, area tersebut mempunyai sedikit kedamaian.

Setiapoprang mengetahui bahwa kebaikan adalah sesuatu yang pantas dan kejahatan adalah tidak pantas. Tetapi apabila perbuatan baik mengakibatkan keadaan memburuk, maka itu tidak pantas. Sebaliknya suatu perbuatannya buruk yang mengakibatkan keadaan yang baik adalah perbuatan yang pantas.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:53 am

Hal.12

12
Kebajikan yang sepenuhnya dan yang separuh hati


Hal berikut yang perlu dipahami adalah mengenai kebaikan yang setengah-setengah dan yang sepenuhnya. Dalam I Ching disebutkan bahwa jika kebaikan tidak dilakukan sepenuhnya maka tidak akan menghasilkan keberhasilan. Kejahatan yang tidak sepenuhnyapun tidak akan mengakibatkan kehancuran total. Ini sama seperti mengisikan barang ke dalam container; jika dilakukan dengan rajin maka akan segera penuh, jika dilakukan dengan malas tidak akan menjadi penuh.

Sebagai contoh, suatu ketika ada seorang wanita yang pergi ke suatu biara untuk bersembahyang dan memberikan persembahan, tetapi karena miskin dia hanya mempunyai dua keping uang, tetapi biarawan tetap keluar untuk memberkahinya. Belakangan, wanita tadi menjadi anggota keluarga istana dan membawa ribuan uang emas untuk dipersembahkan. Kali ini si biarawan hanya mengirimkan salah satu dari muridnya. Karenanya si wanita bertanya, "Sebelumnya saya pernah memberi dua keping uang, tetapi Anda secara pribadi keluar untuk memberi pemberkatan. Hari ini saya memberi ribuan uang emas, mengapa Anda tidak secara langsung memberi pemberkatan?"

Si biarawan berkata, "Di masa lalu, walaupun Anda hanya menyumbang sedikit tetapi dilakukan dengan setulusnya. Kecuali jika saya melakukan pemberkatan secara langsung maka tidak akan cukup. Hari ini walaupun Anda menyumbang demikian banyak, hatimu tidak seperti yang dulu. Sehingga saya cukup mengirimkan seorang murid untuk melakukan pemberkatan." Ini adalah contoh tentang ribuan uang emas yang hanya menjadi setengah kebaikan dan dua keping uang yang merupakan kebaikan sepenuhnya.

Dahulu, ada seorang Dewa bernama Zong-li. Dia mengajari Lu Dong-bing ilmu yang dapat merubah menjadi emas demi untuk membantu dunia. Lu Dong-bing bertanya apakah emas itu akan berubah kembali menjadi bentuk asalnya, dan Zong berkata bahwa hal tersebut akan terjadi lima ratus tahun kemudian. Lu berkata, "Bukankah hal ini akan mengakibatkan kericuhan lima ratus tahun kemudian? Saya mengira saya tidak menginginkan ilmu ini.” Zong berkata, "Untuk dapat menjadi dewa, harus mengumpulkan tiga ribu pahala, dan hanya dengan kata-kata Anda tadi sudah seharga tiga ribu pahala. Sekarang Anda telah menjadi dewa." Jadi, dalam berbuat baik harus dilakukan secara alami dan tulus, dan tidak membanggakannya atau mengingatnya kemudian. Dan walaupun hanya merupakan kebaikan yang kecil akan menghasilkan buah yang baik. Jika ada tujuan dalam berbuat baik, dan dalam memberi mengharapkan balasannya, maka walaupun kebaikan sudah dilakukan seumur hidup, tetap saja merupakan kebaikan yang tidak penuh.

Dalam memberi berlakulah seolah-olah tidak ada yang menerima. Dengan demikian pemberi, penerima, dan uang yang diberikan semua terjadi tidak dengan kesadaran. Pemberian seperti ini, satu senpun sudah cukup untuk membayar karma buruk dalam ribuan tahun kehidupan, dan memberi semangkuk nasi-pun merupakan kebaikan yang tidak terbatas. Jika seseorang, dalam memberi tidak melupakannya, atau mengharapkan balasan, atau merasa menyesal dan sakit hati terhadap pemberian yang sudah dilakukan, maka walaupun sudah memberikan sepuluh ribu keping emas-pun akan tetap merupakan kebaikan yang setengah-setengah.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 7:54 am

Hal.13

13
Kebajikan yang besar dan yang kecil,
yang sulit dan yang mudah


Selanjutnya mari kita lihat tentang kebaikan yang besar dan kecil, serta yang sulit dan mudah. Dahulu, ada seorang yang bernama Wei Zhong-da. Dia merupakan pejabat tinggi di istana. Suatu ketika roh-nya meninggalkan tubuh-nya dan dibawa ke neraka. Raja neraka mengeluarkan buku yang mencatat semua perbuatannya, yang baik maupun jahat. Dia melihat bahwa catatan perbuatan buruknya memenuhi seluruh tempat persidangan sedangkan perbuatan baiknya hanya beberapa lembar saja. Kemudian raja neraka menyuruh bawahannya untuk melakukan penimbangan. Ternyata seluruh catatan perbuatan buruknya masih lebih ringan daripada beberapa lembar perbuatan baiknya. Zhong-da merasa sangat heran dan berkata, "Saya baru saja berumur empat puluh tahun. Bagaimana saya dapat melakukan demikian banyak perbuatan buruk?"

Raja neraka berkata,"Pikiran yang burukpun akan dicatat. Yang tidak dilakukan sekalipun."

Kemudian Zhong-da bertanya, "Lalu mengapa catatan kebaikan saya masih dapat lebih berat dari yang jahat?"

Raja menjawab, "Kaisar sering merencanakan melakukan proyek besar. Sewaktu sebuah jembatan batu direncanakan untuk dibangun di propinsi Fujian, anda telah mengusulkan untuk tidak dilakukan karena mempertimbangkan kesukaran yang akan dihadapi puluhan ribu penduduk yang terpaksa bekerja keras."

Zhong-da mengatakan. "Memang saya mengusulkan hal tersebut, tetapi raja tidak mengikuti nasehat saya, bagaimana hal tersebut boleh diperhitungkan?"

Raja neraka berkata, "Walaupun raja tidak menerima nasehatmu, hanya perhatianmu untuk berbuat baik akan berpengaruh terhadap sepuluh ribu orang. Jika usulanmu diterima maka kebaikannya masih akan lebih besar lagi."

Jadi, suatu perbuatan yang berpengaruh terhadap sepuluh ribu orang, walaupun perbuatannya kecil, membawa akibat yang besar sekali. Sebaliknya, jika perhatian hanya diberikan kepada satu orang saja, dan kebaikannya juga hanya berpengaruh pada satu orang saja, maka walaupun perbuatannya besar, akibat keseluruhannya kecil.
Kebajikan yang sulit dan mudah juga berbeda. Kebajikan yang dilakukan dalam kondisi yang sulit merupakan kebajikan yang lebih berharga. Contoh dari orang yang berbuat baik dalam kondisi yang sulit adalah tuan Shu dari Jiang-xi, yang menggunakan penghasilannya selama dua tahun untuk membayarkan denda orang lain untuk memungkinkan orang tersebut berkumpul kembali dengan keluarganya. Di propinsi Hunan, ada tuan Zhan yang menggunakan tabungannya selama sepuluh tahun agar orang lain dapat membayar hutangnya, sehingga dengan demikian istri dan putri orang tersebut dapat diselamatkan. Di Zhen-Jiang, ada seorang pria yang walaupun tidak mempunyai putra hingga masa tuanya, menolak seorang wanita muda yang ditawarkan tetangganya untuk dijadikan gundik (Hal ini merupakan kelaziman pada zaman tersebut).

Contoh-contoh di atas menggambarkan orang yang memberikan semua yang dimiliki demi keuntungan dan kemudahan orang lain, untuk memahami dan memperhatikan orang lain. Semua perbuatan di atas melampaui apa yang dapat dilakukan dan diterima orang normal. Ini adalah contoh kebajikan yang luar biasa.

Tetap menjalankan kebajikan pada saat diri sendiri sedang dalam kesulitan, tanpa mempunyai uang dan kekuasaan merupakan pahala yang lebih besar. Jika memiliki uang dan kekuasaan, maka kesempatan untuk berbuat baik dan mengumpulkan pahala adalah sangat mudah. Tetapi jika tetap tidak dilakukan, maka sia-sialah orang tersebut. Seperti ada suatu pepatah yang mengatakan, "Jika ada orang kaya-raya yang menolak untuk berbuat baik, orang tersebut seperti babi gemuk."


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 8:01 am

Hal.14

14
10 Metoda untuk menjalankan kebajikan



Kita sudah membicarakan dasar-dasar dan pemahaman tentang berbuat balk Sekarang kita akan berbicara tentang membantu orang melalui metoda yang lain.

1. Memberi kemudahan kepada orang lain.
2. Memperlakukan orang lain dengan penuh hormat dan kasih sayang,
3. Membantu kehendak untuk berbuat kebaikan,
4. Mendorong orang untuk berbuat baik,
5. Menolong orang yang sedang dalam kesulitan,
6. Mendukung gotong royong dan pekerjaan umum,
7. Melepaskan keterikatan pada kekayaan,
8. Melindungi dan mendukung pengajaran spiritual,
9. Menghormati orang yang lebih tua,
10.Melindungi kehidupan makhluk-makhluk hidup.


Tentang yang pertama, memberi kemudahan kepada orang, kita dapat mencontoh salah satu kaisar Cina yang pertama, Shun, sewaktu muda ia suatu ketika menyaksikan orang yang sedang menangkap ikan di propinsi Shandong. Dia mengamati bahwa tempat yang banyak ikannya, pada bagian yang dalam airnya selalu dikuasai oleh nelayan yang lebih muda dan nelayan tua yang lebih lemah kebagian tempat yang berarus deras, sehingga dia menjadi prihatin. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut menangkap ikan, dan setiap kali dia bertemu dengan nelayan yang datang, menuntut dan mengambil tempatnya, dia akan merelakan tempatnya tanpa berkata sepatah katapun. Dan jika bertemu dengan orang yang memberi kesempatan kepadanya untuk menangkap ikan, maka segera ia akan mengucapkan terima kasih. Beberapa waktu kemudian, dia telah berhasil menciptakan suasana saling menghormati dan memberi. Walaupun Shun dapat melakukan perubahan dengan kemampuan untuk mengajar melalui kata-kata, tetapi dia menggunakan dirinya sendiri sebagai contoh untuk merubah suasana. Karenanya, dalam sikap hidup, adalah penting untuk tidak menggunakan kebaikan diri sendiri untuk memojokkan kelemahan orang lain. Jangan pergunakan kecerdasan untuk mempermainkan orang lain . Selalulah hidup dalam kerendahan hati. Jika melihat kekurangan orang lain, bersifatlah penuh toleransi. Jika melihat orang melakukan kebaikan, kecil sekalipun, pujilah mereka. Hal ini secara tidak langsung akan menjadi pelajaran bagi mereka yang berbuat tidak baik. Dengan demikian orang yang bersalah tidak akan merasa dipermalukan untuk berubah. Jadi dalam memberi kemudahan kepada orang lain, selalulah berpikir tentang kesejahteraan keseluruhan dan perlindungan pada kebenaran.

Hati yang penuh hormat dan kasih sayang terhadap orang lain tidak dapat sekedar dilihat dari perbuatan tetapi harus dilihat dari motivasi. Ada suatu pepatah yang mengatakan bahwa perbedaan antara seorang satria dan yang bukan adalah pada pemikirannya. Seorang satria yang sebenarnya memperlakukan semua orang dengan penuh hormat dan kasih sayang, tanpa memilih dan tanpa mengharapkan balasan dari perbuatannya. Beras yang sama menghidupi ratusan jenis manusia yang berbeda. Walaupun setiap manusia adalah berbeda, berbeda dalam kedudukan, berbeda dalam kepintaran, tetapi semuanya adalah manusia. Jadi semuanya harus diperlakukan dengan penuh hormat. Memperlakukan seorang manusia biasa sama seperti memperlakukan para suci. Memperlakukan semua orang dengan penuh hormat dan kasih sayang harus dimulai dengan menyelami diri orang lain, secara kejiwaan dan intelektual.

Umumnya, dalam masyarakat hanya terdapat sedikit satria yang memperjuangkan kebaikan, sementara ilu lebih banyak yang berpangku tangan, sambil menunggu kesempatan yang terbaik bagi diri sendiri. Ditambah lagi dengan sikap manusia yang selalu membela pendapat/kebiasaan yang sepaham dan menolak yang tidak, seorang satria menjadi berhadapan dengan kesulitan untuk bersikap dalam masyarakat seperti ini. Untuk itu seorang-satria harus memiliki determinasi dan keberanian yang sangat kuat. Seorang satria sering mempunyai ucapan dan perbuatan yang berlainan dengan masyarakat pada umumnya. Mereka sangat jujur dan sering bertindak tanpa perhitungan. Mereka mengabaikan cara untuk membangun citra dirinya untuk dapat diterima anggapan umum. Jadi, orang yang tidak bijaksana sering mengkritik dan memojokkan orang-orang baik tersebut sehingga mereka tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kebaikannya. Adalah penting untuk mendukung mereka yang satria, yang mempunyai hati yang baik. Janganlah -membuang mereka seperti sebongkah batu, tetapi asahlah mereka menjadi sebutir permata. Jika melihat orang yang sedang berbuat baik, dukunglah mereka untuk mencapai kehendaknya.

Kebiasaan yang baik sulit dibina tetapi begitu terbina akan menjadi sahabat selama-lamanya karena ia selalu mudah diatur. Sebaliknya kebiasaan yang buruk mudah terjadi dan sekali terbiasa akan menjadi musuh untuk selama-lamanya, karena ia selalu mau mengatur. Sebenarnya setiap orang mempunyai kesadaran yang sempurna, tetapi karena kehidupan yang menyesatkan, karena tarikan dari ketenaran dan kekayaan, sering orang menjadi tenggelam dalam keduniawian. Dalam berhubungan dengan orang lain, selalulah memberi semangat untuk berbuat baik. Pepatah mengatakan :

“ Untuk menyadarkan orang sekali, gunakanlah mulut.
Untuk menyadarkan orang selama ratusan generasi, tulislah buku."




Kehidupan sering dipenuhi oleh musibah dan ketidak-beruntungan. Pada saat menemui orang lain dalam kesulitan, rasakan kesulitan tersebut seperti jika kita sendiri yang menghadapinya. Tanpa banyak perhitungan, segeralah berikan bantuan kepada mereka yang dalam kesulitan. Mulut dapat dipergunakan untuk memberikan kenyamanan kepada orang lain, berbagai metoda lain dapat digunakan.

Banyak pekerjaan yang bermanfaat untuk orang ramai, misalnya pembangunan jalan, jembatan, gedung sekolah ataupun tempat ibadah. Pekalah terhadap keadaan di sekitar kita dan dukunglah pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.

Sang Buddha memberi pelajaran bahwa ada sepuluh ribu jalan untuk mengembangkan spiritual, dan yang pertama adalah dengan memberi. Memberi adalah juga melepas keterikatan. Semakin baik pembinaan diri seseorang, semakin mudah pula ia memberikan apa saja yang dimiliki tanpa banyak pertanyaan. Tentu saja, tidak mudah untuk mencapai tingkatan seperti ini. Kekayaan sering dilihat sebagai lebih penting dari pada kehidupan, jadi sebagai langkah pertama untuk melepaskan keterikatan pada seluruh permasalahan keduniawian adalah dengan merelakan apa yang paling sulit untuk diberikan, yaitu uang. Memberi kepada orang yang dalam kekurangan mempunyai banyak kebaikan. Secara internal, memberi akan mengurangi sifat egois, dan kikir. Secara eksternal, pemberian dapat membantu orang keluar dari kesulitan dan pada akhirnya menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan spiritual. Pada mulanya memberi mungkin dirasakan sebagai paksaan, tetapi segera ia akan menjadi kebiasaan. Memberi juga akan menutupi dan menjauhkan diri dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Ajaran Sang Budha memberikan panduan untuk mencapai penerangan, untuk bebas dari kelahiran dan kematian. Jadi, memberi perlindungan kepada pengajaran-pengajaran spiritual adalah memberi kemudahan bagi orang yang akan membina dirinya. Jika orang yang membina dirinya dengan baik bertambah satu artinya sudah berkurang satu pula orang yang akan jaluh ke dalam penderitaan. Perlindungan terhadap ajaran spiritual mencakup pembangunan tempat ibadah, mencetak kitab suci, memberi perlindungan kepada orang yang membina diri, dan lain-lain.

Menghormati orang yang lebih tua adalah menghormati orang tua, kakak, pimpinan dan terutama kepada orang yang berbudi dan bijaksana. Dalam menghadapi orang tua, harus dilakukan dengan ramah dan penuh hormat. Dan dalam bekerja pada masyarakat, tidak boleh berkelakuan buruk walaupun dalam area yang tidak terjangkau oleh hukum. Dalam menghukum tahanan, sangat penting untuk tidak berlebihan.

Menyenai perlindungan terhadap makhluk hidup, ada pepatah kuno yang mengatakan :

"Untuk melindungi tikus, sejumlah beras disisakan untuk tikus.
Untuk melindungi ngengat, lampu tidak dinyalakan."


Tentu saja ini adalah hal yang sulit dipraktekkan oleh kebanyakan orang, tetapi pepatah ini sebenarnya mengingatkan kita untuk jangan bertindak semena-mena. Mencius berkata, "Seorang satria selalu menjauhi dapur (di Cina, banyak penjagalan yang dilakukan di dapur). Sebagai cara untuk mempertahankan sifat welas kasih, Mencius juga berkata bahwa sekalipun tidak dapat menjadi vegetarian sepenuhnya, setidaknya kita memenuhi hal-hal berikut :

(1) Jika hewan tersebut adalah peliharaan sendiri, Jangan dimakan.
(2) Jika melihat ia dibunuh, jangan makan dagingnya.
(3) Jika terdengar suaranya saat disembelih, jangan makan dagingnya.
(4) yang sengaja disembelih khusus untuk anda, jangan dimakan.


Ini adalah empat keadaan di mana kita tidak makan daging. Setidaknya sebagai awal untuk membangun sifat yang berwelas kasih dan mengembangkan perbuatan baik dan kebijaksanaan.

Orang dahulu kala rnemasak kepompong untuk mendapatkan sutranya sebagai bahan pakaian, dan dalam bercocok tanam kita juga terbantu oleh serangga. Jadi, adalah penting juga untuk tidak menyia-nyiakan makanan dan pakaian, yang pada akhirnya juga berarti sudah memberikan perhatian kepada makhluk hidup. Dalam kehidupan, perlu juga dikembangkan sikap yang berhati-hati agar tidak menyakiti orang lain yang lebih lemah, termasuk makhluk-makhluk lain yang lebih kecil.

Metoda untuk mengumpulkan kebaikan sangat banyak dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya, tetapi Jika dapat segera dimulai dengan kesepuluh metoda ini, pasti akan menjadi permulaan yang baik.


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

Sponsored content

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke III.)

Post by Sponsored content Today at 4:49 am


    Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 4:49 am