Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


Milinda Panha (I)

Share

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 12:17 pm

PENDAHULUAN


MILINDA PANHA


Milinda Panha merupakan buku kuno muktabar tentang Buddhisme yang benar-benar dianggap tinggi sehingga dimasukkan oleh orang Burma di dalam kitab suci Pali Canon. Di dalam buku Palinya dikatakan bahwa percakapan antara Raja Milinda dengan Nagasena terjadi 500 tahun setelah Sang Buddha parinibana. T.W. Rhys David, penerjemah yang terhebat untuk buku-buku Pali, menganggap buku ini sangat bagus. Beliau mengatakan, "Saya berani mengatakan bahwa 'Pertanyaan Milinda' ini jelas merupakan karya terbaik untuk prosa India; dan benar-benar buku terbaik dikelasnya dipandang dari sudut kesusastraan, yang telah diproduksi di negara manapun juga."

Gaya Milinda Panha sangat mirip dengan dialog Platonik, dimana Nagasena memainkan peran sebagai Socrates dan menang berdebat dengan Raja Milinda dalam sudut pandang Buddhis, karena penalarannya yang sehat dan perumpamaannya yang pas.

Artikel MILINDA PANHA ini Seluruhnya terdiri dari XVII BAB dan masing-masing memiliki beberapa Sub BAB lagi, Tujuan saya mem-postingkan Milinda Panha ini adalah untuk membantu umat Buddha menambah wawasan tentang Agama Buddha dan memberikan pokok-pokok jawaban atas pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai Agama Buddha.
Para simpatisan Buddhis juga dapat mempergunakan Artikel ini sebagai awal perkenalan dengan Ajaran Sang Buddha.

Semoga apa yang saya sajikan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, semoga kita semua berbahagia,
semoga semua makhluk berbahagia.

Sadhu...sadhu....sadhu.......


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 12:55 pm

JIWA


Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena dan setelah saling mengucapkan salam persahabatan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya:

1. "Bagaimana Yang Mulia disebut dan siapakah nama Anda?"

"Baginda, saya disebut Nagasena tetapi itu hanyalah rujukan dalam penggunaan sehari-hari, karena sebenarnya tidak ada individu permanen yang dapat ditemukan."

Kemudian Milinda memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: "Nagasena ini berkata bahwa tidak ada individu permanen yang tersirat dalam namanya. Apakah mungkin hal seperti itu diterima?"

Kemudian ia berbalik kepada Nagasena dan berkata, "Jika, Yang Mulia Nagasena, hal tersebut benar, lalu siapakah yang memberi Anda jubah, makan dan tempat tinggal? Siapa yang menjalani kehidupan dengan benar ini? Atau juga, siapa yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong dan mabuk-mabukan? Jika apa yang Anda katakan itu benar maka tidak akan ada perbuatan yang baik atau perbuatan yang tercela, tidak akan ada pelaku kejahatan atau pelaku kebaikan, dan tidak ada hasil kamma. Jika, Yang Mulia, seseorang membunuh Anda maka tidak akan ada pembunuh, dan itu juga berarti bahwa tidak ada mahaguru atau guru dalam Sangha Anda. Anda berkata bahwa Anda disebut Nagasena; sekarang, apakah Nagasena itu? Apakah rambutnya?"

"Saya tidak mengatakan demikian, Raja yang Agung."

"Kalau begitu, apakah kukunya, giginya, kulitnya atau bagian tubuhnya yang lain?"

"Tentu saja tidak"

"Atau apakah tubuhnya, atau perasaannya, atau pencerapannya, atau bentuk-bentuk pikirannya, atau kesadarannya? Ataukah semua tadi digabungkan? Ataukah sesuatu di luar semua itu tadi yang disebut Nagasena?"

Dan masih saja Nagasena menjawab: "Bukan semuanya itu"

"Kalau begitu Nagasena, kalau boleh saya berkata, saya tidak dapat menemukan Nagasena itu. Nagasena hanyalah omong kosong. Tetapi siapakah yang kami lihat di depan mata ini? Kebohonganlah yang telah dikatakan Yang Mulia."

"Baginda, tuan telah dibesarkan dalam kemewahan sejak dilahirkan. Bagaimanakah tadi Baginda datang kemari, berjalan kaki atau naik kereta?"

"Naik kereta, Yang Mulia."

"Kalau begitu, tolong jelaskan, apakah kereta itu. Apakah porosnya? Apakah rodanya, atau sasisnya, atau kendalinya, atau kuknya, yang disebut kereta? atau gabungan semuanya itu, atau sesuatu di luar semua itu?"

"Bukan semua itu, Yang Mulia."

"Kalau begitu, Baginda, kereta ini hanyalah omong kosong. Baginda berkata dusta ketika berkata datang kemari naik kereta. Baginda adalah raja yang besar di India. Siapa yang Baginda takuti sehingga Baginda berdusta?"

Dan Nagasena kemudian memanggil orang-orang Yunani Bactriadan para bhikkhu untuk menjadi saksi: "Raja Milinda ini telah berkata bahwa beliau datang kemari naik kereta, tetapi ketika ditanya 'Apakah kereta itu?' beliau tidak dapat menunjukkannya. Dapatkah hal ini diterima?

Kemudian secara serempak ke-500 orang Yunani Bactria itu bersama-sama berteriak kepada raja, "Jawablah bila Baginda bisa!"

"Yang Mulia, saya telah berkata dengan benar. Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta."

"Bagus sekali. Baginda akhirnya sudah dapat menangkap artinya dengan benar. Demikian juga karena ke-32 jenis zat organ materi dalam tubuhmanusia dan 5 unsur makhluklah saya disebut Nagasena. Seperti Yang telah dikatakan oleh Bhikkhuni Vajira di hadapan Sang Buddha yang Agung, 'Seperti halnya ada berbagai bagian itu maka kata 'kereta' digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk maka kata 'makhluk' digunakan."

"Sangat indah Nagasena, sungguh luar biasa menggagumkannya penyelesaian teka-teki ini olehmu, meskipun sulit. Seandainya Sang Buddha berada di sinipun Beliau pasti akan menyetujui jawabanmu."


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 1:07 pm

2. "Berapa musim penghujan (masa vassa) yang telah Anda jalani, Nagasena?"

"Tujuh, Baginda."

"Tetapi bagaimana dapat Anda katakan tujuh; apakah Anda yang tujuh atau jumlahnya yang tujuh?"

Lalu Nagasena menjawab, "Bayangan Baginda sekarang ada di tanah. Apakah Baginda rajanya atau bayangan itu rajanya?"

"Sayalah rajanya , Nagasena, tetapi bayangan itu ada karena saya."

"Demikian juga, O Baginda raja, jumlah tahunnya tujuh, saya tidaklah tujuh. Tetapi karena sayalah angka tujuh itu ada dan menjadi milik saya, sama seperti bayangan itu menjadi milik Baginda."

"Sungguh hebat, Nagasena, dan sangat luar biasa. Dengan baik teka-teki ini telah Anda selesaikan, meskipun sulit."


Terakhir diubah oleh tanhadi tanggal Wed Sep 16, 2009 1:18 pm, total 1 kali diubah


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 1:12 pm

3. Kemudian raja berkata, "Yang Mulia, maukah Anda berdiskusi dengan saya lagi?".

"Jika Baginda ingin berdiskusi sebagai orang terpelajar, saya mau ; tetapi jika Baginda ingin berdiskusi sebagai raja, tidak."

"Bagaimana orang terpelajar berdiskusi?"

"Bila orang terpelajar berdiskusi akan ada kesimpulan, penyelesaian kekusutan; yang salah ditunjukkan kesalahan nya dan ia mengakui kesalahannya tanpa marah."

"Dan bagaimana raja berdiskusi?"

"Bila raja mendiskusikan suatu masalah dan beliau mengemukakan suatu pandangan, jika ada yang berbeda pendapat dengan raja maka raja akan menghukum orang itu."

"Baiklah, kalau begitu sebagai orang terpelajarlah saya akan berdiskusi. Silahkan Yang Mulia berkata-kata tanpa rasa takut."

"Dengan senang hati, Baginda raja."

"Nagasena, saya akan bertanya", kata raja.

"Bertanyalah, Baginda."

"Saya telah bertanya, Yang Mulia."

"Kalau demikian saya telah menjawab."

"Apa yang telah Anda jawab?"

"Apa yang telah Baginda tanyakan?"

Dengan berpikir, "Bhikkhu ini benar-benar seorang terpelajar yang hebat, ia cukup mampu mendiskusikan apapun juga denganku.", sang raja menyuruh Devamantiya, menterinya, untuk mengundang Nagasena ke istana bersama dengan para bhikkhu lainnya. Raja lalu pergi dengan bergumam:"Nagasena, Nagasena."


Terakhir diubah oleh tanhadi tanggal Wed Sep 16, 2009 1:20 pm, total 1 kali diubah


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 1:14 pm

4. Maka Devamantiya, Anantakaya dan Mankura pergi ke pertapaan Nagasena untuk menemani para bhikkhu pergi ke istana. Ketika mereka berjalan menuju istana, Anantakaya berkata kepada Nagasena, "Yang Mulia, bila saya mengatakan 'Nagasena', apakah sebenarnya Nagasena itu?"

"Engkau pikir apa Nagasena itu?"

"Jiwa, nafas di dalam yang keluar dan masuk."

"Jika nafas itu, setelah keluar, tidak lagi kembali masuk, apakah orang itu akan hidup?"

"Tentu saja tidak."

"Tetapi setelah para peniup trompet, misalnya, meniup trompetnya, apakah nafas mereka kembali pada mereka?"

"Tidak Bhante, tidak."

"Kalau begitu kenapa mereka tidak mati?"

"Saya tidak mampu berbantahan dengan Bhante. Tolong jelaskan lah bagaimana."

"Tidak ada jiwa di dalam nafas. Proses menarik dan menghembuskan nafas ini hanyalah tenaga unsur pokok dari kerangka tubuh."

Kemudian bhikkhu Nagasena berbicara tentang Abhidhamma dan Anatakaya merasa puas dengan penjelasannya.


Terakhir diubah oleh tanhadi tanggal Wed Sep 16, 2009 1:21 pm, total 1 kali diubah


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 1:16 pm

5. Kemudian, setelah para bhikkhu tiba di istana dan selesai makan, sang raja duduk di tempat rendah dan bertanya, "Apa yang harus kita diskusikan?"

"Marilah kita berdiskusi tentang Dhamma."

Dan sang raja berkata, "Apa tujuan Yang Mulia meninggalkan kehidupan duniawi, dan apa tujuan akhir yang ingin dicapai?"

"Kami meninggalkan kehidupan duniawi dengan tujuan agar penderitaan lenyap dan tidak ada penderitaan lain yang muncul; lenyapnya nafsu secara total tanpa bekas adalah tujuan akhir kami."

"Yang Mulia, apakah setiap orang masuk Sangha untuk tujuan yang sangat mulia tersebut?"

"Tidak. Ada yang masuk untuk menghindari kekejaman raja, ada yang agar bebas dari perampok, ada yang untuk menghindari hutangnya, dan ada yang untuk mencari nafkah. Tetapi mereka yang masuk dengan tujuan yang benar melakukan hal itu agar nafsu dapat sepenuhnya terhenti."


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: Milinda Panha (I)

Post by tanhadi on Thu Sep 17, 2009 8:20 am

6. Sang raja berkata,"Adakah orang yang tidak dilahirkan lagi setelah mati?"

"Ya, ada, orang yang tidak lagi mempunyai kekotoran batin tidak akan dilahirkan lagi setelah mati; yang masih mempunyai kekotoran batin akan dilahirkan lagi."

"Apakah Anda akan dilahirkan kembali?"

"Jika saya mati dengan membawa kemelekatan dalam pikiran, ya; tetapi kalau tidak, tidak."


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

Sponsored content

Re: Milinda Panha (I)

Post by Sponsored content Today at 1:04 am


    Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 1:04 am