Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


Melepaskan Sepatu

Share

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Melepaskan Sepatu

Post by tanhadi on Wed Sep 16, 2009 10:45 am

Melepaskan Sepatu
by: Bhikkhu Pannavaro Mahathera


Suatu hari ada seorang yang menghadiri acara yang dilaksanakan dengan duduk bersila bersama. Dia kehilangan sepatunya. Setelah acara selesai, dia mencari-cari di mana sepatu yang tadi dia lepaskan sebelum memasuki ruangan itu. Lama dia mencari hingga semua yang hadir telah meninggalkan tempat, tetapi sepatunya belum juga ketemu.

Sekarang pikirannya mulai gelisah, sangat gelisah. Dia kehilangan sepatunya dan menjadi risau, bagaimana nanti kalau pulang tanpa alas kaki. Tidak hanya gelisah, dia pun mulai mencurigai orang-orang tertentu sebagai pencuri sepatunya. Kegelisahan dan kemarahan pun dibawanya sampai ke rumah. Banyak orang di rumah mendapat porsi kemarahannya juga. Demikian pula sampai malam menjelang tidur, dia selalu memikirkan siapakah pencuri sepatunya itu. Kalau pun berpindah tempat secara tidak disengaja di tempat acara tadi, sekarang ada di mana?

Sampai waktu tidur, dia pun bermimpi menemukan kembali sepatunya. Tetapi begitu terbangun, ternyata hanya mimpi, kecewa sekali. Sepatu yang hilang itu telah menyita, bahkan menyiksa pikirannya selama berhari-hari. Dia penasaran sekali!

Orang itu akhirnya datang kepada saya. Tetapi, bukannya minta nasihat akan kepusingannya setelah dia menceritakan tentang sepatunya yang hilang dan kepusingannya yang sudah beberapa hari dia langsung saja bertanya, di mana sekarang sepatunya itu. Dia menganggap saya mempunyai kemampuan di luar kemampuan manusia biasa, bisa melihat dari jauh keberadaan sepatunya sekarang.

Saya menjawab, "Oh ya, saya tahu di mana sekarang sepatu Anda yang hilang itu." Seketika wajahnya menjadi berseri-seri. Saya lanjutkan menjawab, "Sepatu Anda sekarang berada di dalam pikiran Anda sendiri". Dia sejenak terkejut, tetapi lalu menduduk agak tersipu-sipu malu. Kemudian saya menjelaskan bahwa kita cenderung menyimpan dan mengumpulkan banyak hal, tidak mau berlatih melepas, termasuk mengumpulkan masalah, yang kecil-kecil sekalipun. Kita simpan dan kita bawa ke mana-mana masalah-masalah yang menyiksa itu.

Kalau kita belajar melepas milik kita secara benar dengan cara memberikan dana, memberikan amal pertolongan kepada siapa pun yang memerlukan — yang sudah tentu dilakukan sesuai kemampuan kita — maka kita mulai belajar melepas. Tidak hanya mengikuti keserakahan dengan mencari, mengumpulkan, dan menyimpan. Terus mencari, mengumpulkan, menyimpan sepanjang hari, selama hidup. Sulit melatih diri melepaskan sesuatu untuk kebajikan.

Kalau kita sering dan senang berlatih melepas dengan memberi kebajikan, maka kalau timbul masalah yang mengganggu pikiran, kita bisa dengan tidak sulit melepaskannya. Mana yang Anda pilih? Materi tetap utuh, tetapi pikiran Anda kacau, hancur; atau biarlah materi terlepas kalau memang amat sulit didapatkan kembali..asalkan pikiran atau mental anda tidak hancur. Dalam kehidupan ini, bukankah kita menginginkan ketenteraman?


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

    Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 3:22 am