Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Share

yto
4th Grade
4th Grade

Male Taurus Goat
Jumlah posting : 119
Points : 310
Join date : 25.05.09
Age : 37
Lokasi : jakarta

Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by yto on Mon Aug 03, 2009 12:49 pm

Banyak Non Buddhis memandang kisah Sidharta meninggalkan Keduniawian keluarga & orangtuanya sebagai kekurangan Ajaran Buddha itu sendiri, tapi dalam Pandangan Buddhis sendiri pasti berbeda.

Untuk menjawab pertanyaan diatas : Haruskah kita meneladani sikap Sidharta dengan meninggalkan keluarga untuk mencapai cita2 Kebahagiaan Sejati ?
Jawabannya adalah :
Dengan kebjiaksanaan kita menerangkan kepada keluarga bahwa perbuatan kita tidak hanya membawa kebahagiaan bagi anda melainkan berguna untuk keluarga.
Namun bila pihak keluarga menolaknya maka kita harus dengan sabar dan tidak boleh memaksakan kehendak segera mungkin. Dan apabila sampai tuapun anda tidak diperbolehkan meninggalkan keluarga mungkin dengan cara mengendalikan diri , mengurangi Kekotoran batin setiap saat tanpa perlu menjadi pertapa/Bhikkhu bagi saya pribadi itu cukup maksimal untuk mencapai cita2 anda menjadi bhikkhu. (Dikehidupan berikutnya mudah2an cita2 anda tercapai)

Karena dalam dunia ini pasti ada 2 Pendapat yang saling bertentangan tentang 1 Hal apapun. Trims. Cermati dgn bijak hidup Anda.
Semoga anda Berbahagia....

yto
4th Grade
4th Grade

Male Taurus Goat
Jumlah posting : 119
Points : 310
Join date : 25.05.09
Age : 37
Lokasi : jakarta

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by yto on Mon Aug 03, 2009 12:53 pm

Saya sendiri berpandangan seperti ini. Sidharta Gautama sebagai manusia biasa, tentu saja harus dibedakan antara sebelum dan sesudah mencapai Buddha. Dalam hal ini, saya merasa adalah sebuah kebijaksanaan bila kita meneliti dahulu apa apa saja yang kita yakini sebelum terjebak menjadi kulturisasi, pengkultusan pada seorang guru besar agama seperti Sang Buddha sendiri.

Sebenarnya, meneliti ajaran Sang Buddha sendiri, konsep ide untuk tidak lantas memandang sempurna segala hal/ajaran adalah hal yang jamak. Bisa dilihat dari konsep ehipasiko yang mungkin hanya ada pada ajaran Buddha. Ajaran dari Sang Buddha sendiri. Ehipasiko yang diajarkan Sidharta Gautama justru ditujukan pada ajarannya sendiri dan ajaran ajaran lain. Lebih khusus lagi, ini adalah semacam ajaran yang sangat unik dari Sidharta Gautama sendiri terhadap apa yang diajarkannya. Buddha Dhamma.

Sidharta Gautama sendiri tidak pernah mengkultuskan ajarannya, seperti ajaran agama lain. Sidharta bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa yang dengan kebulatan tekad sangat teramat kuat akhirnya berhasil membebaskan diri dari belenggu kemelekatan. Dan ini yang diajarkannya. Lepas dari kemelekatan.

Kemelekatan. Bukan kesempurnaan ajarannya. Itu point yang ingin saya sampaikan. Kadang, pada tahap tertentu, justru kita, umat Buddha sendiri terjebak dalam kultus, yang jamak pada agama-agama kepercayaan yang ada di dunia ini.

Dengan lepas dari kemelekatan, baru ada kesempurnaan. Bagaimana ingin melepas bila kita masih melekat, bahkan pada teladan dari Sang Buddha sendiri? Manusia diharapkan mencari sendiri metode nya untuk melepaskan diri dari kemelekatan.

Contoh yang saya ambil; Sang Buddha meninggalkan keluarga untuk melepaskan kemelekatan dunia. Mungkin memang anda anggap sebagai kekurangan yang dipandang agama lain pada agama Buddha. Tapi di agama lainpun, adakah nabi-nabi yang sempurna?

Ayah apa yang tega menyembelih anaknya? (Nabi Ibrahim/Abraham).
Raja yang bagaimana yang berzinah dengan istri tenteranya (Nabi Daud)

dll.dll.... Dan, dalam hal ini mari kita lihat bedanya.

Dalam agama lain, sebagaimanapun kelakuan nabi-nabi mereka, nabi tetap utusan Allah yang merupakan panutan yang harus ditiru dan diteladani tindak tanduknya. Apakah hal ini juga kita praktekkan sebagai umat Buddha.

Kenyataannya ajaran Buddha sendiri menolak ide ini. Sidharta Gautama selaku pembabar ajaran Buddha di dunia ini. Justru menganjurkan ehipassiko. Dia manusia yang sudah sempurna. Namun tidak pernah memaksakan kehendaknya untuk menyempurnakan dirinya sebagai panutan umatnya. Mengapa, karena dia menolak dogma. Dan kenyataan, bahwa beliau juga pernah hidup sebagai manusia yang belum sempurna. Mencampur adukkan dua kondisi ini menjadi satu sosok yang kita anggap sempurna, apakah ini bukan justru dogma lagi?

Anda diharapkan mencari metode sendiri untuk kebebasan anda. Itu mengapa akhirnya banyak metode muncul. Aliran aliran besar. Mahayana, Theravada, Tantrayana.... kemudian ada lagi sub sekte yang lebih kecil, menurut Zen, dll.... semuanya Buddhis, namun tidak identik dengan Sidharta Gautama.

Kesunyataan yang pasti benar, kehidupan Sidharta Gautama belum tentu semuanya bisa kita teladani. Contohnya, kehidupan beliau semasa belum mencapai penerangan sempurna, dengan setelah mencapai penerangan sempurna.... adalah dua hal yang berbeda. Akan menjadi semacam dogma yang justru menghambat pencapaian kesempurnaan, bila terikat kuat pada sosok Sidharta Gautama, bukan pada ajarannya.

wantodinet
New Member
New Member

Male Jumlah posting : 3
Points : 12
Join date : 10.03.10

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by wantodinet on Wed Mar 10, 2010 2:30 pm

Tul Bro...,

Kenapa beliau meninggalkan keluarga, karena beliau belum cukup bijaksana (atau belum jadi Buddha) saat itu. Tapi kalau beliau tidak meninggalkan keluarga beliau kemungkinan besar tak mencapai Kebuddhaan saat itu.
Demikian comment saya Bro...., mohon koreksi kalau ada kekeliruan..... berdoa

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by co_ols on Thu Mar 11, 2010 12:20 pm

wantodinet wrote:Tul Bro...,
Kenapa beliau meninggalkan keluarga, karena beliau belum cukup bijaksana (atau belum jadi Buddha) saat itu. Tapi kalau beliau tidak meninggalkan keluarga beliau kemungkinan besar tak mencapai Kebuddhaan saat itu.
Demikian comment saya Bro...., mohon koreksi kalau ada kekeliruan..... berdoa
alasan mu tidak tepat,
ibarat seorang ayah yg pergi mencari uang untuk menghidupi keluarganya lalu apakah kita akan mengatakan kepergiannya tidak bijaksana?

ada banyak nelayan yg pergi mencari ikan dilaut dan pulang hanya 2x dalam setahun, lalu apakah kita akan mengatakan kepergiannya tidak bijaksana?

ada banyak TKW yg pergi mencari nafkah ke negri tetangga dan pulang hanya 2 tahun sekali, lalu apakah kita akan menyebut si ibu tidak bijaksana?

semua yg dilakukan otang-tua pergi dalam waktu yg lama tsb tentunya memiliki tujuan untuk membahagiakan keluarganya.

apa yg di lakukan Sang pangeran meninggalkan keluarga adalah demi suatu cita2 besar yang mulia, suatu tujuan yg jauh lebih besar dari sekedar mencari uang dan materi, jauh lebih besar dari sekedar mencari kebahagiaan duniawi yg sifatnya sementara, tujuan sang pangeran adalah mencari obat untuk mengatasi penderitaan dari kelahiran, kesakitan, ketuaan, dan kematian, obat yg dicarinya adalah tak ternilai dan tak terbandingkan dengan kebahagiaan duniawai apapun, yg dicarinya adalah yg merupakan kebahagian tanpa cela.



bisakah kita bayangkan, bagaimana mungkin seorang pangeran yg bergelimangan harta dan memiliki istana2 megah yg besar namun mampu meninggalkan semua gemerlap harta benda yg dimilikinya, sangat2 jarang ada orang yg sanggup melepaskan kemelekatan harta duniawi kalaupun sanggup pasti akan berpikir 7x karena harus berperang dengan keserakahan di dalam bathinnya terlebih dahulu, dan hanya sang pangeran yg mampu melakukannya tanpa perlu berperang dalam bathinya karena ia sama sekali tidak memiliki keserakahan harta duniawi.

bisakah kita bayangkan, bagaimana mungkin seorang pangeran yg memiliki istri yg cantik bak dewi khayangan tapi dengan rela ia tinggalkan, sangat2 jarang ada orang yg sanggup melepaskan istrinya sendiri kalaupun sanggup pasti akan berpikir 7x karena harus berperang dalam bathinnya dulu, dan sang pangeran mampu melakukannya karena ia sama sekali tidak memiliki keserakahan terhadap nafsu2 indria, bahkan nafsu sexpun tidak mampu memperbudak dirinya.


Sang Buddha mengajarkan bahwa kita diajarkan untuk hidup sederhana dan jangan melekat pada harta benda apapun.

Seandainya Sang Buddha bukanlah sang pangeran, seandainya beliau dulunya adalah seorang yg miskin, maka ketika Sang Buddha mengajarkan untuk tidak melekat pada harta maka tentunya akan banyak orang yg melecehkan "dia bisa ngomong kayak gitu karena dia sendiri miskin", tapi tidak ada seorangpun yg bisa berkata begitu, karena Sang Buddha dulunya dilahirkan kaya raya hidup dalam gemerlapan istana2 megah.
Oleh karena itu apa yg di ajarkannya adalah suatu hal yg sangat luar biasa karena Sang Buddha bukan sekedar berteori belaka namun telah beliau buktikan sendiri bahwa ia bisa melepaskan semua gemerlap harta duniawi maka itulah ajaran yg sungguh luar biasa, itulah Dharma.


Sang Buddha mengajarkan bahwa kita diajarkan untuk hidup menyepi tak melekat pada sanak keluarga bila ingin menjalani kehidupan suci agar dapat segera terbebas dari kelahiran, kesakitan, ketuaan dan kematian yg berulang2.

Seandainya Sang Pangeran tidak punya istri yg cantik, tentunya akan ada banyak orang yg melecehkannya: "dia bisa ngomong kayak gitu karena dia sendiri hidup menjomblo, karena dia itu homo"

atau kalau dia punya istri namun ga punya anak tentunya akan ada yg melecehkannya: "dia bisa ngomong begitu karena dia itu mandul, karena dia itu impoten, ",

namun sang Buddha bukanlah mandul, sang Buddha bukan impoten, dan sang Buddha juga bukan homo, beliau ketika masih pangeran adalah sosok yg ideal sebagai suami dan sosok yg ideal sebagai seorang ayah, jadi apa yg diajarkannya adalah suatu hal yg sangat luar biasa karena Sang Buddha bukan sekedar berteori belaka namun telah beliau buktikan sendiri bahwa ia bisa melepaskan semua kilauan kebahagiaan duniawi, ia bisa melepaskan kilauan kebahagiaan rumah tangga, ia lepaskan semuanya demi suatu kebahagiaan tak terhingga, apa yg diajarkannya bukan sekumpulan dogma, bukan sekedar sekumpulan perintah2 yg diajarkan tokoh2 agama lainnya, apa yg diajarkannya telah beliau buktikan sendiri maka itulah ajaran yg sungguh luar biasa, itulah Dharma.


Terakhir diubah oleh co_ols tanggal Thu Mar 11, 2010 4:38 pm, total 1 kali diubah

wantodinet
New Member
New Member

Male Jumlah posting : 3
Points : 12
Join date : 10.03.10

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by wantodinet on Thu Mar 11, 2010 3:45 pm

Hahaha....jangan terlalu serius Bro...., maksud saya sebelum kebijaksanaan/ pencerahan sempurna diperoleh, beliau adalah manusia seperti kita (yang kebetulan 'bodhisatva') dan belum mencapai ke-Buddha-an sehingga dengan kacamata 'manusia biasa' perbuatan meninggalkan keluarga tanpa 'pamit' adalah bukan perbuatan 'normal' yang dapat diterima....., tetapi 'jalan hidup' seorang calon samma sambuddha haruslah demikian.....agar proses penyempurnaan paramita nya dapat terealisasi dan Ke-Buddha-an dan dicapai.

Ok...Bro...nice post....hanya sharing.... terima kasih atas input2 nya. Sangat bermanfaat.....! berdoa

wantodinet
New Member
New Member

Male Jumlah posting : 3
Points : 12
Join date : 10.03.10

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by wantodinet on Thu Mar 11, 2010 3:52 pm

Sebagai tambahan: Sekarang saja meninggalkan keluarga untuk menjadi anggota Sangha harus mendapat 'restu' atau ijin dari orang tua (kalau belum berkeluarga) atau istri/ suami (kalau berkeluarga). Jadi meninggalkan rumah tanpa pamit (ijin) untuk menjadi bhikkhu/ni jelas tidak diperkenankan. berdoa

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by co_ols on Thu Mar 11, 2010 7:15 pm

hehehhh... nyantai aja
apa yg kutulis tujuannya untuk memberikan pandangan untuk umum koq

wantodinet wrote:Sebagai tambahan: Sekarang saja meninggalkan keluarga untuk menjadi anggota Sangha harus mendapat 'restu' atau ijin dari orang tua (kalau belum berkeluarga) atau istri/ suami (kalau berkeluarga). Jadi meninggalkan rumah tanpa pamit (ijin) untuk menjadi bhikkhu/ni jelas tidak diperkenankan. berdoa

peraturan mendapat restu dari orang tua bukan baru sekarang koq namun sudah ditetapkan di jaman Sang Buddha.
Peraturan tsb mulai diberlakukan ketika Raja Suddhodana yg merasa sedih karna setelah kehilangan anaknya lalu juga merasa kehilangan cucunya (Rahula) yg di upasampada oleh Sang Buddha tanpa sepengetahuan dirinya, sang Raja meminta pada sang Buddha agar kelak ketika seseorang di upasampada harus dengan sepengetahuan orang tuanya, dan permintaan itu dikabulkan Sang Buddha.

Bhaga
1st Grade
1st Grade

Jumlah posting : 9
Points : 25
Join date : 08.05.10

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by Bhaga on Sat May 08, 2010 5:31 pm

Meninggalkan keluarga??
Tergantung pengertian kita tentang "meninggalkan keluarga". Jika "meninggalkan keluarga" dalam pengertian pergi selamanya dan tidak peduli lagi kepada keluarga tentu saja salah besar. Pada tahun ke-2 setelah Pencerahan Sang Buddha mengunjungi keluarganya dan membuat mereka memahami Dhamma, ini adalah pengorbanan dan pemberian terbesar kepada keluarga.

co_ols
Admin
Admin

Male Sagittarius Jumlah posting : 1554
Points : 3046
Join date : 31.03.09
Lokasi : JAPAN ( JAkarta PANas )

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by co_ols on Sat May 08, 2010 6:08 pm

Bhaga wrote:Meninggalkan keluarga??
Tergantung pengertian kita tentang "meninggalkan keluarga". Jika "meninggalkan keluarga" dalam pengertian pergi selamanya dan tidak peduli lagi kepada keluarga tentu saja salah besar. Pada tahun ke-2 setelah Pencerahan Sang Buddha mengunjungi keluarganya dan membuat mereka memahami Dhamma, ini adalah pengorbanan dan pemberian terbesar kepada keluarga.

yup betul, Sang Buddha pergi untuk kembali, jadi adlahah tidak benar kalau dikatakan meninggalkan keluarganya

Chinpoko
New Member
New Member

Jumlah posting : 2
Points : 4
Join date : 04.04.13

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by Chinpoko on Thu Apr 04, 2013 1:57 pm

permisi teman-teman sedharma sy ingin bertanya ttg 1 hal: apakah tindakan Sang Buddha meninggalkan keluargannya tergolong perbuatan durhaka?
jika tidak...mengapa di zaman sekarang seseorang hrs memperoleh ijin dr ortu utk menjalani kehidupan petapa.....
sy punya pengalaman pribadi tdk diijinkan ortu utk pabaja....padahal sy sdh mantap utk menjalani hidup selibat....yg menjadi dilema sy adalah mengikuti kehendak ortu/mengikuti keinginan pribadi?

Sponsored content

Re: Pangeran Sidharta Meninggalkan Keluargannya

Post by Sponsored content Today at 7:11 am


    Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 7:11 am