Dharma Discussion Forum

please join us
Dharma Discussion Forum

Forum Buddhis Indonesia


4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Share

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Sat Aug 01, 2009 12:29 pm

EMPAT PELAJARAN DARI LIAO FAN

Pendahuluan

Banyak orang yang alergi berbicara tentang takdir. Mereka mengatakan bahwa percaya kepada takdir adalah tahyul. Kehidupan manusia adalah tergantung sepenuhnya kepada perjuangan diri sendiri. Pendapat orang seperti ini memang ada benarnya, tetapi pendapat ini pulalah yang kemudian menghilangkan keyakinan akan kebaikan, kerendahan hati, ketulusan dan nilai-nilai penting lainnya. Orang-orang seperti inilah yang kemudian paling sering menghalalkan segala cara untuk kernudahan diri sendiri, yang pada akhirnya hanya membawa diri sendiri ke dalam penderitaan.

Sebaliknya banyak pula orang yang rnempercayakan hidupnya kepada tukang ramal, nujum dan yang sejenisnya. Orang yang seperti ini akan kehilangan semangat hidup, kemudian hidup dalam ketakutan dan pada akhirnya hilang pulalah makna dari kehidupannya. Orang-orang inilah yang tidur di rumah sambil menunggu ada hujan uang dari langit. Mereka pulalah yang menjadikan orang lain dan nasib sebagai alasan bagi semua kesulitan yang dihadapi.

Melalui buku ini, Liao fan, si penulis menjelaskan, tentang apa makna yang sebenarnya dari takdir dan bagaimana seharusnya hidup dan memperjuangkannya. Takdir tidak lain merupakan karma masa lalu yang berubah. Memahami prinsip tentang takdir atau hukum karma sangatlah penting bagi kehidupan, agar kita tidak terjatuh dalam kedua ekstrim di atas. Dengan memahami hukum karma ini juga sangat penting sebagai pegangan hidup kita.

Cina, sebuah negara yang sangat luas dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, dalam sejarahnya pernah menikmati kedamaian dan harmoni antar penduduknya untuk waktu yang sangat panjang. ini adalah berkat kehidupan spiritual dan moral yang terpatri dalam kehidupan sehari-hari penduduknya. Cina terlalu luas untuk dapat diperintah secara efektif, oleh orang, hukum, kerajaan maupun cara apapun juga. Yang mewujudkan semua keharmonisan tadi hanyalah pemahaman yang tergambar dalam pepatah

"Jika Anda menanam benih labu Maka Anda akan memanen labu, dan untuk dapat ;memanen kacang, tanamlah kacang."


Pemahaman ini tertanam dalam kesadaran setiap orang, sehingga setiap orang yakin bahwa "perbuatan baik akan membuahkan hasil ,yang baik". Dan sebenarnya itulah penjelasan secara mudah tentang hukum karma.

Yen Liao Fan sebenarnya menuliskan karya ini untuk puteranya. Sampai saat ini, lima ratus tahun sesudah dituliskan, karya ini tetap menjadi salah satu buku yang paling populer. Walaupun pada bagian-bagian tertentu, tulisan ini hanya relevan dalam konteks zaman Dinasti Ming, tetapi secara keseluruhan, karya ini tetap merupakan suatu panduan yang sangat praktis dalam alam kehidupan sekarang ini. Karya ini secara gamblang menjelaskan pandangan " Orang Cina " dan moralitasnya yang sangat berharga untuk dipelajari.

Dalam usia muda, Liao Fan bertemu dengan orang yang dapat meramalkan masa depan kehidupannya dan kemudian ternyata apa yang diramalkan semuanya terbukti. Hal ini mengakibatkan Liao Fan mempunyai anggapan bahwa dalam kehidupan tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan, karena semuanya akan berjalan sesuai dengan suratan Takdir. Untunglah kemudian Liao Fan bertemu dengan orang yang dapat meyakinkannya bahwa takdir tidak berlaku sepenuhnya. Walaupun takdir berlaku, tetapi setiap manusia yang menjalaninya mempunyai kuasa untuk mengubahnya. Orang yang karma dalam kehidupan sebelumnya tidak baik, akan berbuah dengan kehidupan dalam penderitaan pada kehidupan yang sekarang. Tetapi dengan berbuat kebajikan, memupuk perilaku dan pandangan yang baik, maka perlahan tapi pasti kehidupan juga akan semakin membaik dan akhirnya keluar dari penderitaan. Sama seperti Liao Fan yang akhirnya juga mampu keluar dari Takdirnya yang kurang baik.

Langkah awal untuk menguasai takdir adalah pertobatan. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kehidupannya sudah bebas dari kesalahan dan kebiasaan buruk, maka kemungkinan besar orang tersebutlah yang kurang peka sehingga tidak menyadari kesalahan sendiri. Seharusnya dalam kehidupan sehari-hari perlu dilakukan introspeksi. Jika menyadari adanya kesalahan, perlakukanlah kesalahan kecil seperti seiris bambu yang menusuk ke bawah kulit, yang harus segera dicabut. Dan jika menyadari kesalahan yang besar, perlakukanlah ia seolah-olah gigitan ular berbisa, yang jika perlu jaripun harus segera dipotong untuk menghalanginya menjalar ke bagian tubuh yang lain. Liao Fan menjelaskan tentang sifat-sifat yang harus dimiliki dalam pertobatan dan bagaimana seharusnya pertobatan dilakukan.

Liao Fan juga memberikan berbagai contoh tentang cara untuk memupuk kebajikan. Kebajikan sendiri terbagi berjenis-jenis. Ada yang besar dan yang kecil, ada yang sesungguhnya dan ada yang berpamrih, ada yang dilakukan tanpa terlihat dan ada yang sengaja dilakukan untuk dilihat. Semuanya perlu dipahami agar kita tidak terjebak dalam sesuatu yang dikira sebagai kebajikan, tetapi ternyata tidak lebih dari suatu kepalsuan.

Pada bagian akhir Liao Fan menekankan perlunya sifat rendah hati. Karena hanya orang yang rendah hati yang akan dapat maju dan berhasil. Sebaliknya jika menyombongkan diri, maka dapat dipastikan tidak akan mempunyai kebahagiaan dalam kehidupan.

Kemajuan tekhnologi dan ilmu pengetahuan semata tidak akan mampu menjawab semua masalah-masalah tentang kemanusiaan yang sudah demikian mendesak. Dalam kemajuan tekhnologi dan ilmu pengetahuan, sering kita terlena dan mengabaikan pembangunan moral. Masalah-masalah ini hanya dapat dijawab dengan pembangunan kesadaran spiritual yang sama pesatnya dengan kemajuan di bidang tekhnologi dan ilmu pengetahuan.

Dalam usaha ini semoga karya Liao Fan yang mengungkapkan keunggulan moralitas pada zamannya dapat berkontribusi dan dipraktekan dalam suatu konteks yang baru.

( Bersambung ke halaman(2)..........)


Terakhir diubah oleh tanhadi tanggal Thu Sep 17, 2009 7:06 am, total 2 kali diubah


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Sat Aug 01, 2009 1:16 pm

( Halaman ke 2 )........

PELAJARAN PERTAMA


HUKUM DASAR TENTANG NASIB


1
Semuanya adalah Karma,
sedikitpun bukan upaya manusia ?



Saya (Liao Fan) sudah tidak mempunyai Ayah sejak usia muda. Ibu berpendapat bahwa dengan mempelajari ilmu pengobatan akan merupakan jaminan untuk masa depan apalagi sekaligus akan dapat menolong orang lain . Dengan memiliki ketrampilan, saya tidak perlu lagi khawatir untuk mempertahankan kehidupan. Disamping itu, saya akan menjadi terkenal, sesuai dengan harapan yang dimiliki Ayah pada saya. Jadi, saya menurut kehendak Ibu dan melepaskan impian saya untuk menjadi seorang terpelajar yang lulus pada ujian kerajaan agar dapat bekerja sebagai seorang pejabat pemerintahan.

Suatu hari dalam perjalanan, saya bertemu dengan seorang tua di Kuil "Mega penghibur". Dia mempunyai janggut yang panjang dan kelihatan arif bijaksana. Saat saya memberi hormat kepadanya, dia memberi tahu kepada saya, "Anda seharusnya menjadi orang terpelajar. Anda ditakdirkan untuk menjadi pejabat pemerintahan. Tahun dapan Anda akan lulus dari ujian tingkat pertama. Mengapa Anda tidak berusaha belajar?"

Saya menjelaskan alasan saya, dan kemudian menanyakan namanya. Orang tua tersebut berkata, "Saya bermarga Kong, dari propinsi Yunnan. Saya mempunyai suatu buku penting di bidang astrologi. Dari buku tersebut saya mewarisi pengetahuan dari Shou-zi dan saya akan meneruskannya kepadamu". Kemudian, saya mengundang Tuan Kong ke rumahku dan memperkenalkannya kepada Ibuku. Ibu berpesan untuk melayaninya dengan sebaik-baiknya dan menguji kemampuan orang tua tersebut dalam melakukan peramalan. Ternyata dia selalu benar baik dalam kejadian besar maupun kejadian sehari-harl. Karenanya saya menjadi yakin akan apa yang dikatakannya sebagai takdirku, dan saya mulai belajar untuk persiapan ujian tahun berikutnya. Saya mengkonsultasikan hal ini kepada saudara sepupuku, Shen. Dia merekomendasikan seorang guru, Tuan Yu Haigu, yang mengajar di rumah salahseorang temannya. Selanjutnya, saya menjadi murid Tuan Vu.

Tuan Kong kemudian membuat beberapa perhitungan untuk saya. Dia berkala, "Di tingkat daerah, kamu akan berada pada peringkat empat belas; Di tingkat regional, kamu akan mendapat peringkat tujuh puluh satu; Dan di tingkat propinsi, kamu berada pada peringkat sembilan." Tahun berikutnya, pada ketiga ujian tersebut, ternyata peringkat saya adalah tepat sama dengan yang diramalkan oleh Tuan Kong. Saya kemudian memintanya untuk meramalkan seluruh sisa hidup saya.

Kong meramalkan ujian apa saja yang akan saya lewati dan kapan saya akan lulus dari ujian-ujian tersebut, kapan saya akan memulai tugas dan kapan saya akan dipromosikan. Akhirnya, saya akan ditunjuk sebagai hakim di propinsi Sichuan. Sesudah bertugas selama tiga setengah tahun pada posisi tersebut, saya pensiun dan pulang ke kampung halaman dan hidup sampai usia lima-puluh tiga tahun, dan meninggal pada tanggal 14 agustus pada waktu tso. Sayangnya, saya tidak akan mempunyai putra. Dengan seksama saya mendengar dan mengingat penjelasannya.

Sejak saat itu, hasil dari semua ujian adalah persis sama dengan yang diramalkan. Tuan Kong juga meramalkan saya sudah menerima gaji sebesar sembilan puluh satu dan, lima dou beras pada suatu kedudukan selanjutnya. Pada saat saya sudah menerima tujuh puluh dou beras, atasan saya. Tuan Tu, merekomendasikan saya untuk dipromosi, dan saya sudah mulai mengira bahwa ramalan Tuan Kong akan meleset. Tetapi ternyata ramalan tersebut benar, rekomendasi tersebut ditolak oleh Tuan Yang, yaitu atasan dari Tuan Tu. Dan saya tidak dipromosi hingga beberapa tahun kemudian, dan saat saya menghitung seluruh jumlah betas yang telah saya terima, ternyata tepat berjumlah sembilan puluh satu dan dan lima dou.

Mulai saat itu, saya yakin bahwa baik promosi maupun kemakmuran mempunyai saatnya masing-masing, termasuk kehidupan dan kematian, semuanya sudah dipastikan. Saya menjadi lebih tenang dalam hasrat untuk memiliki apapun. Tahun tersebut, sesudah mendapatkan promosi, saya dikirim ke ibukota utara selama satu tahun. Disitu saya menjadi tertarik terhadap meditasi dan kehilangan hasrat untuk belajar.

(Bersambung ke halaman (3).........)


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Wed Aug 12, 2009 11:38 pm

halaman 3....

2
Karma dibentuk oleh diri sendiri,
semuanya tumbuh dari hati


Pada akhir tahun tersebut saya harus mulai belajar pada sekolah tinggi kerajaan di ibukota selatan, Saat saya kembali ke Nanjing, suatu hari saya mengunjungi Yun Gu-hui, seorang pendeta Zen dari gunung Chi-sha. Kami duduk saling berhadapan selama tiga hari tiga malam tanpa merasa mengantuk. Pendeta Yun berkata, " Orang yang biasa tidak berhasil mencapai kebijaksanaan dan kesucian disebabkan oleh banyak pikiran yang mengganggu dan juga terlalu banyaknya keinginan. Selalu ada penyebab dari ketidak-berhasilannya ".

Saya menjawab, " Tuan Kong telah meramalkan hidup saya, baik untuk promosi, kehidupan maupun kematian, seluruhnya sudah diaturkan sehingga tidak ada yang perlu dipikirkan, dan keinginan atas sesuatu juga merupakan kesia-siaan."

Yun menjawab : " Orang yang biasa dikendalikan oleh energi Yin dan Yang, sehingga orang yang biasa tersebut masihlah didalam kuasa dari takdir. Tetapi untuk orang yang sudah berbuat kebaikan yang luar biasa, nasib tidak lagi dapat mengendalikannya. Sama saja jika seseorang melakukan sesuatu yang sangat buruk, takdir juga sudah tidak mengendalikannya.

Selama dua puluh tahun terakhir, Anda sudah dibatasi oleh ramalan dari Tuan Kong, sehingga Anda tidak mampu merubah takdirmu barang sedikitpun. Anda masih juga merupakan orang awam yang biasa. Padahal saya mengira bahwa Anda mestinya dapat menjadi seorang yang penuh dengan kebijaksanaan dan mencapai kesempurnaan." Melanjutkan perkataannya, Yun mulai tertawa.

Saya kemudian bertanya kepadanya, "Apakah benar bahwa nasib dapat diubah dan orang dapat melepaskan diri dari nasibnya?" Yun berkata, "nasib diciptakan oleh diri sendiri, bentuk kita diciptakan oleh hati kita, pikiran kita. Nasib baik dan buruk juga ditentukan diri sendiri. Demikian dikatakan dalam semua buku-buku lama yang mengajarkan kebijaksanaan. Dalam Sutra tertulis bahwa jika anda berdoa untuk mendapatkan kemakmuran dan ketenaran, mempunyai seorang putra atau putri, atau untuk umur yang panjang, Anda akan mendapatkannya. Ini bukanlah kebohongan karena berkata yang palsu merupakan suatu dosa besar dalam ajaran Buddha, karena tercatat dalam kitab suci, itu pastilah benar."

Saya kemudian menjawab, "Mencius telah mengungkapkan bahwa setiap orang hanya boleh mengharapkan sesuatu yang dalam Batas kendalinya, dengan kata lain, kebajikan, keramahan, ketulusan adalah hal-hal yang dapat dibina Tetapi jika berbicara tentang kemakmuran, ketenaran, kedudukan, bagaimana hal tersebut dapat dicari ataupun diminta?"
Yun menjawab, "Mencius benar, tetapi Anda belum memahami inti ajarannya. Patriarch Zen yang ke-enam, Hui-Neng, telah berkata bahwa semua ladang kebajikan tidak melebihi satu inci persegi yang kecil. Pencarian harus dilakukan ke dalam, ke dalam hati kita, dengan cara demikian akan dapat menyatu dengan segalanya. Yang di luar hanyalah merupakan refleksi daripada yang di dalam. Jika kita mencari ke dalam hati dalam mempraktekkan berbagai jalan kebajikan, dengan sendirinya penghormatan dari orang lain akan didapat, demikian juga dengan kedudukan dan kemakmuran. jika kita tidak mampu melihat ke dalam dan tidak mengendalikan pikiran sendiri, tetapi hanya mencari bentuk luar, maka walaupun perencanaan dilakukan dengan baik, sasaran tetap tidak akan dapat dicapai."

( Bersambung ke hal 4........)


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Wed Aug 12, 2009 11:49 pm

halaman 4.....

3
Malapetaka dari alam masih dapat dihindari
Kesalahan diri sendiri tidak akan terelakkan


Pendeta Yun melanjutkan bertanya, 'Apa yang dikatakan Tuan Kong mengenai takdirmu?' Jadi sayapun menceritakannya secara rinci. Yun kemudian bertanya, 'Menurut Anda apa yang sepantasnya Anda terima? Penunjukkan pemerintah? Apakah Anda percaya bahwa Anda berhak alas seorang putra?"

Saya merenungkan pertanyaan ini untuk waktu yang lama dan kemudian berkata, "Semua yang mendapatkan penunjukkan pemerintah mempunyai tampang yang bernasib baik, saya tidak memilikinya. Saya juga tidak mengumpulkan pahala untuk membangun takdirku. Saya sangat tidak sabaran, tidak toleran, tidak disiplin, dan berkata-kata tanpa kendali, saya juga mempunyai keangkuhan dan egoisme yang kuat. Semua ini menunjukkan ketiadaan kebajikan, dalam keadaan demikian bagaimana mungkin saya mendapatkan penunjukkan pemerintah?"

Saya kemudian melanjutkan, "Ada pepatah tua berkata, bahwa kehidupan bersemi dari kotoran di bumi, dan air yang bersih tidak akan mempunyai ikan. Saya demikian mementingkan kebersihan, itulah alasan pertama mengapa saya tidak mempunyai putra. Penyebab kedua adalah karena cinta kasih adalah inti dari semua kehidupan, kekasaran adalah penyebab dari hilangnya kehidupan. Saya demikian mudah marah dan tidak mempunyai keramahan. Saya terlalu memperhatikan reputasiku dan tidak dapat melupakan kesombongan diri dalam menolong orang yang dalam kesulitan; Saya tidak pernah merasa kasihan terhadap orang lain, saya juga cenderung berbicara berlebihan yang akhirnya hanya merusak citraku, saya berangkat tidur sangat malam sehingga saya tidak dapat menjaga diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa saya tidak dapat mempunyai putra"

Pendeta Yun kemudian berkata, "Jadi, Anda berpendapat bahwa banyak hal termasuk ketenaran dan seorang putra, tidak dapat dipastikan akan diperoleh dalam kehidupan. Di dunia, ada orang yang sedemikian kaya sedangkan yang lainnya mati kelaparan. Hal yang demikian kontras terjadi hanyalah sebagai akibat dari perbuatan kita sendiri. Setiap orang menciptakan takdirnya masing-masing, sedangkan Tuhan hanya memberikan sesuai dengan apa yang kita tabur."

Pendeta Yun melanjutkan, Hal yang sama terjadi dengan memiliki putra; Jika pahala yang dikumpulkan sudah cukup untuk seratus kali kehidupan maka kita Akan memiliki keturunan sebanyak seratus generasi. Orang yang mengumpulkan pahala untuk sepuluh generasi akan memiliki sepuluh generasi keturunan untuk melindungi kebajikannya. Dan yang tidak mempunyal keturunan adalah mereka yang belum mergumpulkan cukup kebajikan.

Dengan memahami penyebab timbulnya takdir Ini, maka kita akan merubah penyebab dari tidak didapatkannya penunjukkan pemerintah dan tidak dimiliklnya putra, berubah dari kekikiran menjadi pemurah, dari tidak toleran menjadi memahami, dari keangkuhan menjadi kerendahan hati, dari kemalasan menjadi rajin, dari kekejaman menjadi berwelas kasih, dari keculasan menjadi ketulusan, dengan cara demikian kebaikan akan ditumbuhkan. Dengan mencintai diri sendiri dan tidak menyia-nyiakannya, membiarkan yang lalu berlalu dan memulai suatu hidup yang baru.

Siapa saja yang memahami dan kemudian berbuat sesuai dengan hukum penyebab timbulnya takdir ini akan dapat menciptakan apa saja sesuai dengan yang diinginkannya. Inilah yang dimaksud dengan didapatkannya kehidupan yang kedua. Jika tubuh kasar sudah dikuasai oleh hukum alam ini, maka jiwa kita menjadi menyatu dengan kehendak Tuhan. Seperti yang tertulis dalam buku "Tai ja" orang dapat meloloskan diri dari kehendak Tuhan tetapi tidak dari perbuatan buruknya. Tuan Kong telah memperhitungkan bahwa Anda tidak akan mendapatkan penunjukkan dari pemerintah dan juga tidak mempunyai putra. Itulah takdir dari perbuatan masa lalumu, tetapi jika Anda memulai cara-cara baru dan mulai melakukan kebajikan, maka Anda akan dapat merubah takdirmu.

I Ching ditulis untuk membantu orang menghindari bahaya dan mengundang nasib baik. Jika segala-galanya sudah dipastikan terlebih dahulu, maka tidak akan ada gunanya bagi kita untuk menghindari bahaya dan memperbaiki keberuntungan. Dalam bagian awal sekali dari bab pertama I Ching saja sudah ditulis bahwa " keluarga yang berbuat kebaikan akan menikmati nasib yang baik."

(bersambung ke hal 5.......)


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Wed Aug 12, 2009 11:56 pm

halaman 5....

4
Membina diri memperbaiki karma
Menjalankan kebajikan memohon keabadian


Setelah merenungkan kata-kata Pendeta Yun, saya tersadar dan memahami prinsip tentang takdir.Mulai saat itu, saya bertobat di depan Yang Maha Kuasa atas Semua perbuatanku yang salah di masa lalu. Secara tertulis, saya menuangkan keinginanku untuk lulus dalam ujian agar mendapatkan penunjukkan dari pemerintah, dan saya berikrar untuk melaksanakan tiga ribu kebajikan sebagai tanda bersyukur atas terlaksananya harapanku.

Pendeta Yun juga mengajari saya agar mencatat kebajikan dan kesalahan yang saya perbuat, karena sering terjadi kebajikan yang telah dilakukan akan ditiadakan oleh kesalahan-kesalahan. Untuk membanyu pencapaian atas harapan yang diinginkan, Pendeta Yun juga mengajarkan mantra/doa yang harus dipergunakan dalam ketenangan/keheningan pikiran untuk membantu pencapaian atas apa yang diinginkan.

Mencius menyatakan bahwa nilai sebuah kehidupan yang panjang maupun yang pendek adalah tidak berbeda. Secara sepintas, keduanya terlihat berbeda tetapi tanpa jiwa yang berbeda keduanya sebenarnya adalah sama.

Lebih jauh lagi, jika seseorang hidup dengan cara yang benar tanpa memperdulikan apakah hasilnya akan menjadi baik maupun buruk, maka orang tersebut telah menguasai takdir akan kemakmuran dan keselamatan.

Jika orang tersebut hidup tanpa dipengaruhi posisi dalam kehidupan, maka iapun sudah menguasai takdir akan status yang tingi dan rendah.

Untuk memperbaiki nasib, kita perlu terlebih dahulu memperbaiki semua kebiasaan yang buruk dan pola pikir yang jelek. Begitu suatu pikiran yang jelek terbentuk, saat itu juga singkirkan ia sampai ke akar-akarnya. Untuk mampu mengendalikan pikiran saja sudah merupakan suatu pencapaian yang baik. Adalah tidak mungkin untuk tidak memiliki pemikiran sama sekali tetapi jika kita menjiwai mantra tersebut hingga pada tingkat dimana walaupun tidak sedang mengucapkannya tetapi tanpa disadari tetap mengulanginya, maka mukjizat dari mantra tersebut akan terwujud.

Nama tengah saya tadinya mempunyai arti 'lautan pelajaran' tetapi mulai hari tersebut berubah menjadi Liao Fan "(meloncati kefanaan)". Ini menunjukkan sadarnya saya tentang terciptanya takdir oleh diri sendiri. Saya tidak akan lagi terjatuh ke dalam jeratan pemikiran fana.


( Bersambung ke hal 6......)


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Thu Aug 13, 2009 12:05 am

halaman 6....

5
Takdir tidak berlaku selamanya
Membina diri akan merubahnya


Saya merubah keseluruhan cara hidup saya. Pada masa lalu, saya sama sekali tidak disiplin, pemikiran saya tidak terkendali, tetapi mulai saat itu saya memperhatikan semua yang saya pikir dan ucapkan, sekalipun saat saya sedang sendirian dalam kegelapan. Saat orang memaki dan memfitnah saya, saya tidak marah dan mengabaikannya.

Tahun selanjutnya, saya mengikuti ujian pemerintahan pendahuluan; Tuan Kong meramalkan bahwa saya akan berada pada posisi ketiga ,tetapi ternyata saya pada posisi pertama, Ramalan tuan Kong mulai kehilangan ketepatannya, dan selanjutnya saya lulus dalam ujian pemerintahan pada musim gugur tersebut, yang tidak pernah diperkirakan dalam ramalan. Saat saya berintropeksi, saya menyadari bahwa cara hidup saya belum juga sepenuhnya memuaskan. Misalnya, saat berbuat baik saya tidak melakukannya dengan total, saat menolong orang saya masih dihinggapi keraguan, atau walaupun melakukan kebaikan tetapi saya tidak selalu mengatakan yang benar. Saya dapat mengendalikan diri sepenuhnya saat sadar tetapi menjadi hilang kendali karena mabuk. Kebaikan dan keburukan selalu saling meniadakan. Menyadari hal ini, saya merubahnya.

Sejak waktu membuat ikrar, saya menyelesaikan ke-tiga ribu kebaikan saya dalam sepuluh tahun. Sesudahnya, saya pulang ke rumah saya yang lama dan pergi ke biara untuk bersembahyang dan mempersembahkan pahala yang sudah saya perbuat. Kemudian saya melakukan permintaanku yang kedua yaitu seorang putra. Saya juga berikrar untuk memenuhi tiga ribu kebaikan yang lain. Pada tahun Sin-Ze, saya mendapatkan seorang putra yaitu anda..., Tian-Chi.

Setiap kali melakukan kebaikan, saya mencatatnya pada sebuah buku. Ibumu, (isteri Liao Fan) yang tidak bisa membaca, akan membuat sebuah lingkaran saat dia melakukan kebaikan. Misalnya, kami memberi makan kepada orang miskin, atau membantu orang lain yang dalam kesulitan, atau melepaskan makhluk hidup. Kadang-kadang, dia dapat mengumpulkan lebih dari sepuluh lingkaran dalam sehari. Sehingga, hanya dalam waktu dua tahun, kami sudah menyelesaikan tiga ribu kebaikan dan sekali lagi kami kembali ke biara untuk bersembahyang dan mempersembahkan pahala yang sudah terkumpul. Kemudian saya mengajukan kehendak yang lain yaitu lulus pada ujian pemerintah tahap selanjutnya, dan berikrar akan melaksanakan sepuluh ribu kebaikan. Sesudah tiga tahun, pada tahun 1586, saya lulus pada ujian pemerintahan yang saya kehendaki dan diangkat menjadi mayor pada negara bagian Bao Di.

Mulai saat itu saya menyimpan buku yang mencatat kebaikan dan kesalahan pada meja kerja saya. Saya juga mengatakan kepada staf saya untuk membuat catatan yang sama. Setiap sore, saya berintrospeksi dan melaporkan semua perbuatanku kepada yang Maha Kuasa. Isteri saya melihat bahwa saya belum juga berbuat cukup banyak kebaikan dan dia menjadi sangat gelisah. Dia mengatakan saat kami tinggal di rumah, banyak kesempatan untuk melakukan kebaikan. Dan sekarang, sesudah pindah ke rumah tinggal dinas, kesempatannya menjadi berkurang. Bagaimana kami mungkin memenuhi ikrar kami untuk melakukan sepuluh ribu kebaikan?

Suatu malam, dalam mimpi saya melihat ada dewa yang datang dan mengatakan kepada saya, "Jika kamu mengurangi pajak untuk sawah, maka sebuah perbuatan itu saja sudah akan berharga sepuluh ribu kebaikan."
Memang di negara bagian Bao-di, pajak untuk sawah sangat tinggi sekali. Saya memutuskan untuk mengurangi pajak tersebut menjadi setengahnya, tetapi tetap saja saya ragu-ragu .

Bagaimana mungkin satu perbuatan akan bernilai sepuluh ribu kebaikan? Bertepatan pada saat itu ada seorang pendeta yang sedang berkelana, dan saya bertanya kepadanya tentang kebenaran mimpi saya. Dia berkata bahwa asalkan perbuatan baik dilakukan dengan hati yang setulusnya, satu itu akan dihitung sebagai sepuluh ribu kebaikan. Jika pajak dikurangi untuk seluruh negara bagian, maka paling sedikit sepuluh ribu orang akan diuntungkan dengan pengurangan tersebut. Tentu saja perbuatan tersebut menjadi bernilai sepuluh ribu kebaikan.

Setelah saya memahami penjelasannya, sebagai tanda terima kasih, saya mendermakan gaji bulanan saya untuk dia bawa pulang dan didermakan untuk sepuluh ribu pendeta.

Tuan Kong meramalkan bahwa saya akan meninggal pada usia lima puluh tiga tahun. Saya tidak pernah meminta umur yang panjang, tetapi ternyata saat sampai pada usia lima puluh tiga tahun, saya tetap dalam keadaan yang baik. Sekarang saya berusia enam puluh sembilan. Mulai saat tersebut juga, jika seseorang mengatakan bahwa nasib adalah ditangan Tuhan, saya menganggapnya sebagai seorang awam yang belum betul-betul memahami kehidupan.

Jika orang tersebut mengatakan bahwa keberuntungan adalah apa yang diciptakan dan dilaksanakan mulai dari dalam hati sendiri, maka orang tersebut saya anggap sebagai seorang yang bijaksana.

( bersambung ke hal. 7.....)


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

tanhadi
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 58
Points : 293
Join date : 24.05.09

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by tanhadi on Thu Aug 13, 2009 12:13 am

halaman 7....

6
Satu-satunya nasehat :
Jalani kehidupan membina diri


Sebagai kesimpulan; walaupun tidak mengetahui takdirnya sendiri, pada saat berhasil orang harus berendah hati dan walaupun semuanya sudah terjadi seperti apa yang diharapkan, jika harus tetap berlaku seolah tidak memiliki apa-apa.

Saat kaya, kita tetap berlaku seperti saat miskin. Walaupun mendapatkan cinta, hormat dan dukungan dari orang lain, kita tidak boleh menjadi angkuh. Jika kita berasal dari keluarga yang terkemuka, kita tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Walaupun mempunyai banyak pengetahuan, kita harus tetap menghormati orang lain dan berkonsultasi kepada orang lain jika memang diperlukan.

Kita harus selalu menolong dan toleran terhadap orang lain, tetapi bersikap keras kepada diri sendiri. Kita harus tanpa ragu-ragu berintrospeksi setiap hari dan merubah apa saja yang belum sempurna.


(bersambung ke hal. 8........)


_________________
Salam Metta,
Sabbe satta bhavantu sukhitatta

Sponsored content

Re: 4 PELAJARAN DARI LIAO FAN (Pelajaran ke I.)

Post by Sponsored content Today at 1:08 am


    Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 1:08 am